"Namanya spyware kalau sudah masuk ke sini [WhatsApp] bisa melakukan apa saja. Misal kita punya data di aplikasi Ovo dan Gojek, sekarang kita kan bisa deposit di situ namanya spyware dia bisa ambil akun kita," kata Yudhi kepada awak media di Hariss Cafe, Jakarta, Rabu (15/5).
"Orang biasanya tahu kalau sudah kejadian, misal entah bagaimana bisa uangnya yang didepositkan misal di akun OVO tiba-tiba berkurang tinggal 1000 perak, dia baru sadar."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mengimbau masyarakat pengguna WhatsApp untuk segera memperbarui aplikasi untuk mencegah serangan spyware.
Melalui akun resmi Twitter resminya, BSSN menginformasikan kepada masyarakat tidak hanya memperbaharui aplikasi WhatsApp namun pihaknya juga menghimbau untuk memperbaharui aplikasi lain yang ada di ponsel.
[Gambas:Twitter]
Juru bicara WhatsApp sendiri tidak menyangkal adanya serangan spyware. Pihaknya mengatakan serangan itu memiliki semua ciri khas perusahaab swasta yang telah diketahui bekerja dengan pemerintah untuk memberikan spyware yang memiliki kemampuan untuk mengambil alih sistem operasi ponsel.
Disebut-sebut Kelompok NSO Israel merupakan dalang dari serangan spyware itu.
Spyware NSO telah berulang kali ditemukan untuk meretas wartawan, pengacara, pembela hak asasi manusia dan pembangkang. Salah satu kasus spyware yang sempat menghebohkan dunia ialah kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi yang diduga akibat dari target spyware.
[Gambas:Video CNN] (din/evn)