Metana Ditemukan, Diduga Ada Sumber Air di Mars

CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 12:05 WIB
Metana Ditemukan, Diduga Ada Sumber Air di Mars Wahana penjelajah Mars, Curiousity (dok. NASA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Robot penjelajah Mars milik NASA, Curiosity mengukur adanya peningkatan metana secara tiba-tiba sebanyak 10 kali lipat di sekitar atmosfer Planet Merah. Metana sendiri adalah kimia organik. Selain itu, penjelajah ini juga menemukan molekul organik di sampel batuan yang dikumpulkan oleh robot laboratorium pengebor itu. 

"Peningkatan metana--yang tiba-tiba naik dan kembali turun-- menunjukkan pasti ada sumber yang relatif lokal," jelas Sushil Atreya of the University of Michigan, Ann Arbor, dan tim rover Curiosity. "Ada banyak kemungkinan sumber, biologis ataupun non-biologis, seperti interaksi air dan batuan."

Dengan ditemukannya metana ini, maka diperkirakan ada air yang mengalir dibawah permukaan Mars dan menguap menjadi metana setelah bersenyawa dengan mikroba dan batuan. Jumlah metana sekitar 21 bagian per miliar unit berdasarkan satuan volume (ppbv).

Metana Ditemukan, Diduga Ada Sumber Air di MarsPerkiraan adanya sumber air di bawah tanah Mars yang bersenyawa dengan mikroba dan batuan dan menguap dalam bentuk metana (dok. NASA)

Satu ppbv artinya jika Anda mengambil volume udara di Mars maka berarti satu per sejuta volume udara itu terdiri dari metana. Temuan itu menarik bagi para ilmuwan NASA karena kehidupan mikroba adalah sumber penting metana di Bumi namun metana juga dapat diciptakan melalui interaksi antara batu dan air.


"Dengan pengukuran kami saat ini, kami tidak memiliki cara untuk mengetahui metana adalah biologi atau geologi, bahkan kuno atau modern," kata Kepala Investigasi SAM Paul Mahaffy dari Goddard Spaceflight Center NASA di Greenbelt, Maryland dikutip dari laman resmi NASA.

Tim Curiosity sendiri telah mendeteksi metana berulang kali selama misi berlangsung. Penelitian sebelumnya telah mendokumentasikan bagaimana tingkat gas metana tampak naik dan turun secara musiman.

Mereka juga mencatat lonjakan metana secara tiba-tiba. Namun, para ilmuwan NASA hanya mengetahui sedikit tentang berapa lama lonjakan ini akan bertahan.

Pada penelitian sebelumnya, tidak hanya metana yang ditemukan. Para peneliti juga mendeteksi berbagai bahan kimia organik di Mars yakni material bubuk yang berasal dari batu dan diberi nama Cumberland.

Molekul organik yang mengandung karbon dan hidrogen adalah bahan kimia pembangun kehidupan. Kendati demikian, temuan Curiosity dari analisis sampel atmosfer dan bubuk batu itu tidak mengungkap apakah Mars pernah memiliki mikroba yang hidup atau tidak.

Namun temuan itu menjelaskan bagaimana Mars modern yang aktif secara kimia dan pada kondisi yang menguntungkan bagi kehidupan di Mars kuno.

Para peneliti Curiosity juga perlu waktu untuk menganalisis temuan ini dan melakukan lebih banyak pengamatan metana. Selain itu mereka membutuhkan waktu untuk berkolaborasi dengan tim sains lainnya seperti Trace Gas Orbiter dari Badan Antariksa Eropa.

Robot misi penjelajah Mars yakni Curiosity merupakan salah satu elemen penelitian untuk mempersiapkan manusia ke planet Merah pada 2030 mendatang. Caltech mengelola Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California sedangkan JPL mengelola investigasi sains Curiosity untuk Direktorat Misi Sains NASA di Washington, AS. (din/eks)