Menurut PT Toyota-Astra Motor (TAM), sebagai perwakilan Toyota di Indonesia, nilai itu tidak hanya berasal dari Toyota, melainkan bersama enam brand otomotif Jepang lainnya.
"Jadi yang berkomitmen melakukan investasi sebenarnya industri otomotif Jepang bukan hanya Toyota," kata Executive General Manager PT (TAM) Fransiscus Soerjopranoto di Jakarta Timur, Senin (8/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau itu belum ada pembicaraan," ucap dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soerjo tidak menampik bahwa investasi besar tersebut akan dipergunakan masing-masing perusahaan untuk mengembangkan teknologi otomotif khusus kendaraan hibrida dan murni listrik. Hal ini ia bilang juga sebagai upaya 'mentransfer' teknologi.
"Karena secara teknologi, yang perlu dipikirkan namanya investasi perlu ada transfer teknologi. Jadi mau bicara mobil nasional kita ya harus bicara teknologinya. Tidak mungkin tidak punya teknologi bisa bikin mobnas," ucapnya.
Sebelumnya Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melakukan 'One on One Meeting' dengan Presiden Direktur TMC Akio Toyoda, di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara-Negara Group 20 (G-20) di Osaka, Jepang, pada Kamis (27/6).
Selain sebagai bos besar Toyota, Toyoda juga diketahui menjabat sebagai Ketua Asosiasi Manufaktur Otomotif Jepang (JAMA). Setelah pertemuan itu Airlangga pun membocorkan rencana jangka panjang Toyota soal investasi.
"Rencana investasi Toyota berikutnya terkait dengan kebijakan pemerintah yang baru, yaitu yang mendorong pengembangan electric vehicle. Nah, itu yang akan tercantum dalam dua PP," kata Airlangga mengutip keterangan resmi, Jumat (28/6).
"Pertama, mengenai percepatan kendaraan berbasis elektrik, dan yang kedua adalah kegiatan terkait dengan PPnBM untuk industri berbasis elektrik, yang di dalamnya termasuk hybrid. PPnBM itu akan menjadi nol kalau berbasis kepada elektrik dan emisinya paling rendah," ucap Airlangga menambahkan. (ryh/mik)