GIIAS 2019

Suzuki Indonesia Sanggup Produksi Jimny 4X2

fea, CNN Indonesia | Jumat, 19/07/2019 23:53 WIB
Suzuki Indonesia Sanggup Produksi Jimny 4X2 Suzuki Jimny Concept. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Tangerang, CNN Indonesia -- Presiden Komisaris Indomobil Sukses Internasional Soebronto Laras bicara peluang generasi keempat Suzuki Jimny diproduksi di Indonesia. Menurut dia ada kemungkinan Jimny diproduksi di dalam negeri bila model yang dipilih 4X2.

Suzuki Indomobil Sales baru saja meluncurkan Jimny di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) pada Kamis (18/7). Cuma ada satu pilihan sistem gerak yang ditawarkan yakni berpenggerak empat roda (4WD).

Saat ini Jimny hanya diproduksi di satu lokasi, yaitu Jepang. Permintaan Jimny yang begitu tinggi di seluruh dunia bikin suplainya terbatas buat masing-masing negara.


Bahkan di Indonesia kuotanya hanya 50 unit per bulan padahal permintaannya dikatakan Suzuki Indomobil Sales 'sangat tinggi'.

Soebronto menjelaskan Suzuki di Indonesia sebenarnya siap memproduksi model baru. Dia mengatakan Suzuki punya dua pabrik perakitan, di Tambun berkapasitas 120 ribu unit per tahun dan di Bekasi sebesar 140 ribu unit per tahun yang bisa dimanfaatkan.

Meski begitu dia mengatakan untuk memproduksi model baru tidak mudah. Ada banyak pertimbangan yang mesti disiapkan.

"Enggak semua kita bisa bikin tergantung juga pada support komponen yang prinsipal ini jadi masalah kadang-kadang. Kalau kita bikin cuma 500 unit (per bulan) atau 1.000 unit (per bulan) ini rasanya tidak ekonomis buat kami. Ya, kalau bicara 1.000 unit mungkin masih bisa sanggup kita, artinya kan 12 ribu per tahun. Itu kita akan sanggupi," ucap Soebronto saat ditemui di GIIAS 2019.

Soebronto menyoroti masalah suplai komponen untuk memproduksi Jimny yang dia katakan sebagian mesti dibeli dari vendor. Agar Suzuki bisa memproduksi Jimny di dalam negeri, Soebronto menjelaskan ada opsi pada 4X2.

"4x2 kalau kita bikin lokal bisa," ucap Soebronto.

Menurut dia Jimny 4X2 diproduksi lokal pasti disetujui prinsipal asalkan ketemu volume produksi yang pas. Hal itu, kata dia, sudah dibicarakan dengan prinsipal.

"Kendalanya ya balik lagi volume, itu kan kalau mesti bikin mobil kan komponennya kan banyak kira-kira ribuan. Nah, itu kan tidak semuanya bisa balance. Kita kurang 20 komponen saja tidak jalan," papar Soebronto. (fea)