Survei: Masyarakat Percaya Mobil Listrik daripada Otonom

ray, CNN Indonesia | Kamis, 01/08/2019 12:24 WIB
Survei: Masyarakat Percaya Mobil Listrik daripada Otonom Ilustrasi mobil listrik. (Foto: Istockphoto/vencavolrab)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perkembangan mobil otonom atau bergerak sendiri tanpa sopir yang dilakukan berbagai perusahaan otomotif disebut belum berhasil menarik simpati sejumlah masyarakat, khususnya di negeri paman sam Amerika Serikat.

Berdasarkan hasil riset JD Power yang melibatkan 5.000 responden, studi ini menemukan bahwa dari sekala 0-100 poin, keyakinan seseorang kepada mobil otonom hanya mendapat 36 poin dilansir Carscoops.com pada Rabu (31/7). Jumlah ini diklaim mewakili populasi AS.

Menurut survei seseorang masih belum merasa nyaman sebagai penumpang mobil otonom. Sebagian juga ada yang merasa takut memberi kendali sepenuhnya kepada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada kendaraan.


Riset menunjukkan 71 persen di antaranya tidak percaya terhadap teknologi otonom yang dianggap rentan gangguan dan masalah teknis lain. 57 persen responden lain khawatir kendaraan otonom dapat diretas, sementara 55 persen khawatir mobil akan mengalami kecelakaan.

Sedangkan 66 persen pihak yang tak setuju dengan mobil otonom merupakan orang berpengetahuan sedikit atau bahkan tidak mengetahui teknologi mobil otonom.

Di samping itu, survei yang dilakukan pada kendaraan listrik mendapat lebih banyak perhatian atau memperoleh 55 persen.

Banyak konsumen mobil sadar pentingnya manfaat penggunaan kendaraan listrik, terutama untuk menjaga kualitas udara. Namun tidak sedikit juga menyimpan kekhawatiran misalnya biaya pengisian baterai, kurangnya infrastruktur, dan masalah lain.

Masalah kendaraan listrik mungkin bisa lebih cepat teratasi, sebab banyak produsen dan pemerintah di berbagai negara yang sedang membangun lebih banyak stasiun pengisian daya baterai mobil listrik.

Selain itu produsen juga sudah punya kendaraan listrik yang memungkinkan seseorang bepergian dengan jarak mencapai 322 km dalam satu kali pengisian saja.

Pembuat mobil juga mulai memperkenalkan kendaraan yang dapat diisi ulang dengan waktu singkat, ini sejalan dengan hasil baru yang menyebutkan 74 persen responden mengatakan mereka hanya bersedia menunggu 30 menit untuk proses mengisi baterai kendaraan. (ryh/mik)