Kemendagri Adu Jual Beli Data Pribadi ke Polisi Diapresiasi

CNN Indonesia | Kamis, 01/08/2019 08:58 WIB
Kemendagri Adu Jual Beli Data Pribadi ke Polisi Diapresiasi Ilustrasi (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat mengapresiasi langkah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk melaporkan sindikat jual beli data pribadi. Jual beli data pribadi di media sosial ini sempat diungkap oleh Semuel Christian Hendra lewat cuitan di Twitter lewat akun @hendralm. Data pribadi yang diperjualbelikan berupa NIK dan KK hingga foto selfie.

"Kita apresiasi ikhtiar Dukcapil Kemendagri untuk melaporkan sindikat atau organized crime yang memperjualbelikan data pribadi warga," jelas Damar Januarto, Koordinator Regional Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) kepada CNNIndonesia, Rabu (31/7).

Lebih lanjut Damar berharap kepolisian bisa bergerak cepat melakukan penyidikan agar ada jaminan rasa aman dari warga.


"Ini kan menyangkut data pribadi yang terkait dengan hak privasi," tuturnya.

Lebih lanjut, Damar menyebut salah satu modus yang digunakan untuk mengumpulkan data pribadi warga.

"Banyak yang memakai modus sebagai pembeli yang kemudian menghubungi orang-orang untuk meminta foto dan selfie diri dengan KTP atau misalnya menawarkan tiket murah, tapi meminta orang yang tergiur untuk mengirimkan NIK, KK, dan lain-lain," jelasnya.

Sebelumnya, Semuel Christian Hendra sempat mempertanyakan mengapa kasus jual beli data pribadi yang ia ungkap lewat cuitannya malah berujung pelaporan ke polisi. Hal ini terungkap dalam cuitannya di akun @hendralm.



Hal ini ia cuitkan menanggapi berita yang menyebut kalau Kemendagri akan melaporkan cuitannya itu ke Bareskrim Polri atas pencemaran nama baik.

Namun, kepada CNNIndonesia.com, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyebut meminta Bareskrim untuk mengusut oknum masyarakat yang menggunakan media lain untuk mengakses data NIK dan KK penduduk. Sebab, menurutnya itu adalah tindak kejahatan.

Lebih lanjut, Tjahjo menyebut bahwa pihaknya tidak melaporkan orang per orang. Tapi melaporkan soal peristiwa jual beli data kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) dan Kartu Keluarga.

Dalam cuitan selanjutnya, Hendra juga mengaku mendapat ancaman dari anggota grup jual beli data pribadi yang aksinya ia beberkan.

Kasus ini mencuat setelah Hendra mencuitkan soal praktek jual beli data pribadi yang dilakukan oleh sejumlah oknum. Praktek jual beli ini dilakukan lewat grup Dream Market di Facebook.

Grup tersebut memperjualbelikan data NIK, KK, hingga foto selfie pengguna. Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, data-data ini bisa digunakan untuk berbagai hal. Mulai dari registrasi kartu perdana prabayar, hingga mengajukan pinjaman online. Data ini dijual mulai dari ribuan hingga ratusan ribu rupiah per data satu orang. (eks/eks)