Lama di Luar Angkasa, Sebagian DNA Astronaut NASA Berubah

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 09/03/2018 12:22 WIB
Lama di Luar Angkasa, Sebagian DNA Astronaut NASA Berubah Ilustrasi astronaut (AFP PHOTO / VYACHESLAV OSELEDKO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengaruh lingkungan antariksa terhadap tubuh manusia lebih luas dari yang diperkirakan. Efek yang ditimbulkan bukan terletak di permukaan fisik, melainkan struktur DNA manusia.

Scott Kelly adalah astronaut National Aeronautics Space Administration (NASA). Kelly memiliki saudara kembar identik bernama Mark Kelly yang dulu juga aktif sebagai astronaut NASA.

Sebelumnya Scott dan Mark sudah dipastikan memiliki DNA yang sama sebagaimana kembar identik pada umumnya.


Scott sudah menghabiskan waktu 500 hari di luar angkasa, sebagian besarnya ia jalankan di dalam Stasiun Antariksa Internasional (International Space Station/ISS).

Status kembar tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin oleh NASA untuk melangsungkan penelitian.

Setelah Scott kembali ke Bumi, peneliti NASA mendapati DNA miliknya berubah cukup signifikan. Perubahan terjadi di bagian telomeres, bagian DNA yang terletak di ujung tiap kromosom.

Biasanya, telomeres akan memendek seiring menuanya seseorang. Namun pada kasus Scott ini yang terjadi justru sebaliknya, telomeres dalam DNA-nya malah bertambah panjang.

"Telomeres Scott benar-benar bertambah panjang selama di luar angkasa," ucap juru bicara NASA seperti dikutip dari BGR, Kamis (8/3).

Temuan mengejutkan dalam DNA Scott belum berhenti di sana. Pada umumnya, ukuran telomeres akan kembali seperti semula ketika astronaut menginjakkan kakinya kembali di Bumi.

Begitu pula pada DNA milik Scott. Peneliti mendapati telomeres yang tadinya memanjang kembali pendek, namun ternyata tidak semua demikian.

"Saya membaca di koran bahwa 7 persen DNA milikku berubah secara permanen. Setelah membacanya, saya merasa itu aneh," ujar Scott.

Sebelum penelitian DNA dilakukan, para peneliti berspekulasi bahwa tekanan hidup di luar angkasa akan memendekkan telomeres Scott ketimbang milik saudaranya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, telomeres di sel darah putih Scott malah bertumbuh.

"Ini sangat berseberangan dengan apa yang kami duga," jelas Susan Bailey, seorang peneliti radiasi biologis dari Universitas Colorado State yang bekerja dengan NASA untuk memelajari efek luar angkasa terhadap telomeres, seperti dikutip Nature.

Sudah dua tahun sejak Scott terakhir kali menjalankan misi ke antariksa. Temuan sebagian DNA miliknya yang berubah permanen jadi bekal penting NASA dalam melangsungkan misi mengirim manusia ke Mars.

Misi ke Mars ini dicanangkan bakal terjadi pada 2030-an. Sebuah misi berawak ke Mars diperkirakan memakan waktu tiga tahun, waktu yang jauh lebih lama ketimbang misi berawak ke luar angkasa lain yang pernah dilalui manusia. (eks/eks)