Sangat Kuat, Katak Terbesar di Dunia Bisa Bikin Kolam Sendiri

CNN Indonesia | Minggu, 11/08/2019 10:52 WIB
Sangat Kuat, Katak Terbesar di Dunia Bisa Bikin Kolam Sendiri Ilustrasi. (Eric N. Smith/University of Texas Arlington via lipi.go.id)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penelitian terbaru menunjukkan bahwa spesies katak terbesar di dunia, katak Goliat membuat kolamnya sendiri untuk telur dan berudu mereka. Katak-katak itu  ditemukan di Kamerun dan Guinea Ekuator.  

Mereka dilaporkan membangun kolamnya dengan memindahkan bebatuan berbobot lebih dari setengah bobot tubuh mereka sendiri.


Tim peneliti dari Kamerun dan Jerman mempelajari kemampuan hewan yang tumbuh dewasa dengan panjang lebih dari 13 inci dapat mengangkat bobot lebih dari 6,6 pound.  


Oleh karena itu, para ilmuwan percaya bahwa kerja keras yang dilakukan katak-katak itu dapat menjelaskan ukuran tubuh mereka yang tidak biasa.

Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Museum Sejarah Alam Berlin menemukan bahwa katak-katak itu mengubah kolam natural yang ada atau membentuk sarang baru di dalam kolam kecil.

[Gambas:Video CNN]

Ukuran kolam di sepanjang tepi-tepi sungai di Kamerun itu mencapai lebar 3 kaki dan dengan kedalaman 4 inci.

"Mereka terkadang memindahkan bebatuan yang bobotnya mencapai 2 kg (4.4 pound). Kami berpikir bahwa aktivitas pekerjaan seperti ini dapat menjelaskan mengapa katak dewasa memiliki tubuh besar," kata kepala penelitian tersebut, Marvin Schäfer seperti dilansir CNN, Jumat (9/8).

Selain memiliki tubuh yang besar dan kuat, katak-katak itu juga membuktikan bahwa mereka adalah orang tua yang cemas.


Mereka menjaga anak-anak dan memberi makan di tempat yang jauh dari bahaya predator dan hewan lain.

"Katak besar adalah spesies amfibi Afrika pertama yang sekarang juga diketahui aktif mempersiapkan atau membangun tempat perkembangbiakan mereka sendiri," kata pemimpin proyek sekaligus presiden grup konservasi Frogs & Friends, Mark-Oliver Rödel dalam sebuah keterangan pers.

Para ilmuwan berharap penelitian itu bisa membantu upaya konservasi didedikasikan untuk katak langka yang terancam punah.


Pada Mei lalu, Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) melaporkan bahwa habitat menyusut, eksploitasi sumber daya alam, perubahan iklim dan polusi adalah pemicu punahnya spesies dan mengancam lebih dari 40 persen amfibi. (ani/dea)