Analisis

Enzo Allie dan Fakta di Balik Jejak Digital

cnnindonesia, CNN Indonesia | Selasa, 13/08/2019 20:22 WIB
Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Enzo Zenz Allie mencuat ketika video ia merespons sejumlah pertanyaan Panglima TNI dalam bahasa Prancis menjadi viral di media sosial. Keduanya berbincang dalam bahasa Prancis ketika Enzo dinyatakan lulus Akademi Militer Taruna di Magelang.

Video yang viral ini lantas menggelitik seorang netizen untuk menggali media sosial pemuda itu. Akun @JawiDwipa malah lebih jauh menilik hingga akun media sosial ibu Enzo, Hadiati Basjuni Allie.




Dari penelisikan histori media sosial Enzo dan Hadiati, keduanya dianggap sebagai simpatisan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan pemerintah. Hal ini terindikasi dari foto profil Enzo dan Hadiati yang tengah membawa panji organisasi tersebut.

Pihak TNI pun bereaksi dengan menurunkan BAIS (Badan Intelijen Strategis) TNI untuk mendalami masalah ini. Hingga akhirnya keluar keputusan untuk mempertahankan pemuda blasteran Sunda-Prancis ini karena dianggap memenuhi seluruh syarat menjadi taruna Akmil.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa menyatakan Enzo lulus tes keberagaman. Analisis moderasi keberagamaan Enzo mendapat nilai 84 persen dengan nilai 5,9 dari total 7.

Polemik ini membuat Enzo menghapus akun Facebook miliknya. Sementara Hadiati melindungi akun Facebook miliknya dari publik.

Namun, akun Facebook Ulin Ni'am Yusron menyebut langkah ini percuma. "Semua jejak digital ibu dan anak itu sudah menyebar di jagad internet," tuturnya dalam akun Facebook miliknya.



Jejak digital sulit dihapus

Pakar Keamanan Siber dan Media Sosial Kun Arief menyebut jejak digital memang sulit untuk dihapus. Meski pengguna telah menghapus konten yang dimaksud, namun jejak dari konten tersebut masih tersimpan pada cache mesin pencari.

"Jejak digital sangat sulit untuk dihapus. Hal ini disebabkan hampir semua mesin pencari (misal, Google, Yahoo, dll) memiliki engine berupa 'cache browser' yang bertujuan untuk efisiensi pencarian," jelas Kun ketika dihubungi, Selasa (13/8).

Cache ini menurut Kun memang ada di peramban agar mereka bisa memberikan hasil pencarian yang lebih cepat. Sehingga, ketika pengguna melakukan pencarian terhadap suatu kata kunci tidak perlu melakukan pengaisan kembali. Tapi cukup mengambil cache yang sudah tersimpan.

"Pengguna umum atau biasa, sangat sulit untuk menghindari agar "jejak digital"-nya tidak tampak. Karena browser dan search engine (mesin pencari) yang tidak melakukan caching sangat sedikit diketahui oleh khalayak," tuturnya lagi.

Hal serupa diungkap pengamat keamanan siber lainnya dari Vaksin.com, Alfons Tanujaya.

"Jejak digital itu sebenarnya sesuatu yang sangat sulit dihilangkan. Ada pameo berkata: sekali suatu informasi ditampilkan secara digital, ia akan ada disana selamanya."

Ia mencontohkan jika seseorang tidak sengaja telah mengeposkan gambar tidak senonoh dan lekas dihapus, besar kemungkinan gambar itu sudah terekam.

"Secara teknis di server penyedia layanan tercatat apa yang pernah tampil sekalipun sudah dihapus. Belum lagi layanan lain atau follower yang kebetulan melihat posting-an mengakibatkan informasi yang ditampilkan khususnya di medsos itu dapat dipastikan sudah ada yang menyimpan," jelasnya.

Halaman berikutnya: makin sering pakai internet, jejak digital makin banyak, dan sulit dihilangkan 

[Gambas:Video CNN]
(eks/eks)
1 dari 2