Pengujian Biodiesel B30 telah berjalan dua bulan sejak peresmian dilakukan di Jakarta pada Kamis (13/6).
"Hasil uji presipitasi menunjukkan B30 cenderung mempunyai presipitat lebih tinggi dibanding B0. Hasil uji start-ability menunjukkan mobil dapat dinyalakan secara normal. Itu membuktikan B30 mengalir dengan baik di dalam mesin walau telah didiamkan selama 21 hari pada kondisi dingin," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Badan Litbang ESDM) Dadan Kusdiana di Dieng, Rabu (14/8) pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat pengujian Solar menggunakan tiga mobil Toyota Innova Diesel, yang masing-masing diisi bahan bakar solar murni (B0), B30 dengan kadar monogliserida (MG) sebesar 0,4 (persen-massa), dan B30 dengan kadar monogliserida sebesar 0,55 (persen-massa).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suhu dingin umum menjadi 'musuh' mobil-mobil berbahan bakar solar. Mobil diesel rentan mogok di daerah dengan cuaca ekstrem karena terjadi pembekuan pada solar.
"Cuaca di Dieng kan juga berubah-ubah suhunya, 10 derajat Celcius, bahkan bisa minus. Kendaraan-kendaraan itu sudah melewati suhu (dingin) itu."
Setelah uji coba menyalakan mesin kendaraan yang sudah didiamkan selama 21 hari itu, bahan bakar B30 akan kembali diuji coba ketahanannya pada kondisi mesin berjalan. (mik)