Harga Esemka Disebut Tak Sampai Rp100 juta

CNN Indonesia | Senin, 19/08/2019 15:03 WIB
Harga Esemka Disebut Tak Sampai Rp100 juta Sejumlah pikap Esemka terpakir di Sambi, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (22/10/2018). (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Solo Manufaktur Kreasi (SMK) berjanji dalam waktu dekat akan meluncurkan produk perdananya bernama Esemka Bima. Mobil itu ditargetkan bakal sampai ke tangan konsumen dengan harga yang tidak lebih dari Rp100 juta.

Hal tersebut diketahui dari keterangan calon pemasok komponen Bima yaitu Perkumpulan Industri Kecil Menengah Komponen (PIKKO) Indonesia. Saat ini kerjasama antara PIKKO dan SMK baru sampai tahap Letter of Intent (LOI/surat bisnis).

"Harga jual target mereka di bawah Rp100 juta. Kemarin tanya sekitar Rp98 juta. Termasuk kompetitif," kata Dewan Pengawas PIKKO Indonesia Wan Fauzi di Jakarta belum lama ini.


Fauzi mengaku sudah melihat langsung mobil itu. Menurut dia secara tampilan tidak ada yang spesial dari Bima atau bisa dikatakan sama seperti mobil niaga ringan pada umumnya.

Kata Fauzi purwarupa Bima ini punya dimensi lebih besar dari pikap buatan Daihatsu yaitu Gran Max. Namun soal tenaga dan keandalannya, Fauzi belum sempat menjajalnya.

"Bisa dilihat dari sasisnya. Tapi yang namanya mobil seperti ini model kan tidak terlalu penting juga. Contoh AMMdes, yang penting tenaga bagus dan harga," ucap dia.

Komponen Lokal

Fauzi bilang untuk saat ini pikap tersebut mayoritas komponennya masih impor. Sehingga dikatakan saat masuk produksi massal secara bertahap SMK akan menggandeng pemasok lokal, salah satunya melalui anggota PIKKO.

Terkait negara asal komponen impor Bima, Fauzi tidak menyebutkan.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) Kemenperin Harjanto menerangkan pemerintah punya harapan Esemka bisa punya tingkat kandungan komponen dalam negeri yang tinggi.

Kata Harjanto itu bisa dicapai jika SMK bekerjasama dengan pemasok lokal untuk pengadaan komponen bodi, pembuatan sasis, hingga merancang mesin sendiri di dalam negeri.

"Ya setinggi-tingginya TKDN Esemka. Tapi kalau 100 persen tidak mungkin. Karena di manapun industri mengedepankan efisiensi. Lihat potensi permintaan, kualitas komponen," kata Harjanto.

Sementara itu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan dari data yang dimiliki bahwa Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) produk perdana Esemka baru 40-50 persen. (ryh/fea)