Kominfo Sebut 5G di Spektrum Tinggi Boros Investasi

jnp, CNN Indonesia | Selasa, 20/08/2019 19:49 WIB
Kominfo Sebut 5G di Spektrum Tinggi Boros Investasi Ilustrasi (CNN Indonesia/Susetyo Dwi Prihadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengatakan jaringan 5G dengan frekuensi tinggi memiliki tingkat cakupan sinyal yang rendah. Cakupan sinyal rendah ini berimbas pada mesti banyaknya investasi menara BTS (Base Transceiver Station) agar bisa menyediakan cakupan sinyal yang luas.

Direktur Penataan Sumber Daya, Ditjen SDPPI, Kemenkominfo, Denny Setiawan mengatakan saat ini uji coba 5G di Indonesia menggunakan spektrum 28 GHz. Dengan frekuensi ini, cakupan sinyal untuk satu BTS hanya 200 sampai 300 meter.

"Teorinya kalau frekuensinya makin tinggi cakupannya makin kecil, tadi kan cuma 200 sampai 300 meter artinya perlu investasi yang sangat banyak," kata Denny usai uji coba 5G di PT Smart, Tbk. Refinery di Marunda Jakarta Utara, Senin (19/8).


Oleh karena itu tingginya nilai investasi membuat 5G dari segi model bisnis tak ekonomis untuk diterapkan bagi masyarakat luas. Model bisnis baru cocok untuk industri yang menerapkan otomasi dengan kebutuhan kecepatan jaringan tinggi dan lattency yang rendah.

"Kalau diterapkan nasional berarti ini tidak bisa dideploy biasa karena harus butuh BTS yang banyak. Ini sebenarnya efektif di daerah-daerah tertentu seperti daerah pabrik," ujarnya.

Kominfo menyiapkan frekuensi mulai dari 600 MHz hingga 6 GHz, terutama dalam rentang 3,5 GHz hingga 4,2 GHz untuk keperluan 5G.

"Memang ada frekuensi lain 3,5 MHz, 3,6 MHz, 700 MHz tapi ada penggunanya. 3,5 MHz dan 3,6 MHz ada satelit, 700 MHz ada televisi," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys mengakui memang spektrum yang berpotensi bisa digunakan 5G memang sudah terpaki semua.

Ia mengatakan uji coba 5G di 28 GHz sangat tinggi apabila 5G akan diterapkan secara nasional. Ia mengatakan pemerintah saat ini sedang berusaha untuk mencari jalan keluar agar 5G bisa digunakan di frekuensi-frekuensi yang lebih rendah.

"Kalau frekuensi setinggi itu digunakan untuk menggelar jaringan secara full coverage itu tidak efisien. Kalau saya harus memasang setiap 200 meter, bayangkan seluruh Jakarta mesti berapa puluh ribu yang mesti saya pasang," ujar Merza. (eks)