LIPI Kembangkan Obat Kanker dari Rumput Laut Coklat

CNN Indonesia | Jumat, 23/08/2019 07:30 WIB
LIPI Kembangkan Obat Kanker dari Rumput Laut Coklat Ilustrasi (iStock/FatCamera)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Irwandi Jaswir menyatakan pihaknya tengah mengembangkan rumput laut cokelat menjadi obat anti kanker.

Sebab terdapat senyawa anti kanker potensial dalam tanaman itu. Senyawa yang dimaksud adalah klorofil, karotenoid, asam fenol, mycosporine, flavonoid, alkaloid, saponin hinga polisakarida tersulfasi.

"Rumput laut selama ini kita fokusnya yang warna hijau dan merah karena ini yang menjadi sumber ekonomi yang dipakai untuk agar-agar dan lainnya. Kita kembangkan tadi 'drug rumput laut' yang berwarna cokelat itu ada bioaktif termasuk juga anti kanker," kata Irwandi kepada awak media di kantor LIPI, Jakarta, Kamis (22/8).


Namun menurut Irwandi, obat anti kanker berbahan baku rumput laut itu hanya untuk manusia karena harus melalui proses yang panjang termasuk uji klinis.

Selain itu, manfaat rumput laut juga bisa menjadi antioksidan karena sejumlah penyakit yang terkait tumor dan kanker ini berawal dari produk yang melalui proses oksidasi.

Saat ini Irwandi menilai bahan rumput laut baru dijadikan sebagai suplemen makanan bahkan bisa menjadi suplemen anti obesitas atau kegemukan dengan dosis tertentu.

"Untuk obesitas dan antioksidan terbukti maka kita menjualnya sebagai suplemen. Kalau dijualnya sebagai suplemen kita tidak seketat seperti obat, obat ini panjang prosesnya," jelas dia.

Sebagai informasi, Irwandi Jaswir tidak hanya melakukan pengembangan terhadap rumput laut. Dia merupakan salah satu peneliti yang tertarik pada konsep halal dilihat dari sisi ilmu pengetahuan.

Menilik konsep halal dari perspektif agama, terdapat dua hukum yang berlaku yakni halal dan haram yang secara umum halal didefinisikan sebagai sesuatu yang diperbolehkan.

"Misalnya kita bicara soal lemak babi, kita teliti lemak babi itu seperti apa sampai berlevel-level yang makin kecil. Ketika kita bicara soal vaksin Halal, gimana alternatifnya? Seandainya ini dikategorikan tidak boleh, yang bolehnya yang mana? Ini yang kita sebut dengan Halal Science," jelas Irwandi. (din/eks)