MEET THE GEEK

Thomas Djamaludin, Mimpi Jadi Peneliti Berakhir di Astronomi

Dini Nur Asih | CNN Indonesia
Senin, 02 Sep 2019 11:05 WIB
Kepala LAPAN Thomas Djamaludin menuturkan kisah awal ketertarikannya pada bidang astronomi yang sempat menyimpan mimpi masa kecil untuk menjadi peneliti. Thomas Djamaludin sempat menyimpan cita-cita menjadi peneliti. (Foto: CNN Indonesia/Dini Nur Asih)
Tak cukup hanya lewat studi literatur, Thomas mengenang awal mula ketertarikannya di dunia astronomi mendorongnya untuk membuat riset pustaka sederhana mengenai antariksa.

Dalam debut pertamanya, ia memberanikan diri untuk mengirim tulisan ke redaksi majalah. Tak dinyana, tulisannya mengenai astronomi justru berhasil dimuat di majalah.

"Di situ mulai minat terhadap astronomi, jadi yang tadi dari tumbuhan dan keantariksaan secara umum kemudian lebih fokus ke astronomi. Dan waktu itu tulisannya jadi dimuat di majalah, saya tidak tahu penulis redaksinya apakah dia tahu penulisnya anak SMA kelas 1," kenang Thomas sambil tertawa.


Usai dinyatakan lulus dari SMAN 2 Cirebon, di tahun 1981 Thomas melanjutkan studi Strata 1 di Institut Teknologi Bandung jurusan astronomi melalui jalur PP II (Proyek Perintis II) -- sejenis PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan).

Disela perkenalan mahasiswa baru, pria berkacamata ini mengenang saat itu hanya ada lima mahasiswa astronomi. Ketika ditanya soal motivasi memilih jurusan astronomi, dengan mantap ia mengatakan ingin membuktikan ayat dalam Alquran yang menjelaskan alam semesta.

"Motivasi utama saya selain minat karena ada ayat Al-Quran yang terkait dengan alam semesta itu menarik misal surat An-Nur. Artinya, Allah itu cahaya bagi langit dan Bumi, belakangan saya mengetahui makna ayat itu jadi Allah memberi cahaya pada langit dan Bumi maka kita mengetahui objek yang jauh, bintang secara fisis," terangnya.

Ayat Alquran yang memuat penjelasan terkait alam semesta pula yang mendorong Thomas untuk mengimplementasikan ilmu astronomi untuk menghitung awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Selain melakuan perhitungan berdasarkan ilmu astronomi, ia juga mengatakan berguru ke salah satu dosen di Universitas Islam Bandung untuk mempelajari korelasi antara ilmu astronomi dan agama yang dianutnya.

Thomas mengenang hal menarik lain yang diterimanya saat tengah merampungkan studi akhir. Seorang temannya yang bekerja sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) di LAPAN menginformasikan lowongan pekerjaan yang tengah dibuka.

Kendati sempat ragu, Thomas tak mau melewatkan kesempatan begitu saja. Ia akhirnya mencoba melamar pekerjaan tersebut. Tak diduga, ia justru mendapat respons positif dari kepala LAPAN saat itu.

"Jadi ditawarin tapi saya belum lulus sudah ditawarin masuk ke LAPAN dan waktu itu langsung diajak menghadap kepala LAPAN di Bandung. Saya katakan "Saya belum lulus, saya masih mengerjakan skripsi" kata beliau, "Sudah anggap lulus saja"," ucapnya.

Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerima tawaran itu dan mengikuti tes CPNS LAPAN. Setelah melalui serangkaian tes hingga akhirnya dinyatakan lulus sebagai CPNS. Tak lama ia kemudian menghadap dosen pembimbing di ITB untuk memberi tahukan kabar baik tersebut.

Hanya saja bukan respons baik yang diterimanya, dosen pembimbingnya itu justru tak menyukai kabar gembira tersebut. Ia bahan sempat diminta untuk menghentikan bimbingan skripsi dengan sang dosen lantaran telah dinyatakan diterima di LAPAN. Thomas kemudian mengetahui jika sebenarnya ia hendak dipromosikan menjadi dosen astronomi usai dinyatakan lulus dari ITB.

"Saya baru tahu bahwa pembimbing saya mau mengusulkan saya jadi dosen di astronomi ITB. Pembimbing saya bilang, "Berhenti saja lah bimbingannya," saya jadi bingung juga sudah diterima di LAPAN kalau tidak lulus ya percuma. Tapi akhirnya di rapatkan ditingkat jurusan kemudian dosen-dosen yang lain bisa memahami," ucapnya.

Selang sebulan setelah dinyatakan lulus Strata 1 pada 1 Oktober 1986, Thomas mengabdi untuk LAPAN dengan menyandang status sebagai ASN. Lima bulan berselang, ia mendapat tawaran beasiswa melanjutkan studi master astronomi di Universitas Kyoto. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima tawaran tersebut.

Di tengah studinya selama dua tahun di Jepang, ia kembali menerima tawaran untuk melanjutkan studi S3 dari universitas yang sama. Ia kembali mengiyakan tawaran tersebut untuk memperdalam ilmu yang sejak lama disukainya itu.

"Saya selesaikan Master dua tahun lalu pembimbing saya mengatakan, "Mau lanjutkan gak ke Doktor?" Wah saya senang sekali dan langsung saya terima tawaran itu," ucapnya.

Semasa melanjutkan studi di Jepang Thomas mengenang sempat membuat jadwal salat untuk dijadikan pedoman saat beribadah. Kala itu ia mengatakan penentuan jadwal salat hanya tersedia untuk daerah Kobe dan Tokyo. Ia kemudian menghitung dan membuat program jadwal salat untuk semua provinsi di Jepang.

Meneropong masa depan studi antariksa Indonesia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER