Dalam debut pertamanya, ia memberanikan diri untuk mengirim tulisan ke redaksi majalah. Tak dinyana, tulisannya mengenai astronomi justru berhasil dimuat di majalah.
"Di situ mulai minat terhadap astronomi, jadi yang tadi dari tumbuhan dan keantariksaan secara umum kemudian lebih fokus ke astronomi. Dan waktu itu tulisannya jadi dimuat di majalah, saya tidak tahu penulis redaksinya apakah dia tahu penulisnya anak SMA kelas 1," kenang Thomas sambil tertawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayat Alquran yang memuat penjelasan terkait alam semesta pula yang mendorong Thomas untuk mengimplementasikan ilmu astronomi untuk menghitung awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Selain melakuan perhitungan berdasarkan ilmu astronomi, ia juga mengatakan berguru ke salah satu dosen di Universitas Islam Bandung untuk mempelajari korelasi antara ilmu astronomi dan agama yang dianutnya.
Thomas mengenang hal menarik lain yang diterimanya saat tengah merampungkan studi akhir. Seorang temannya yang bekerja sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) di LAPAN menginformasikan lowongan pekerjaan yang tengah dibuka.
Kendati sempat ragu, Thomas tak mau melewatkan kesempatan begitu saja. Ia akhirnya mencoba melamar pekerjaan tersebut. Tak diduga, ia justru mendapat respons positif dari kepala LAPAN saat itu.
"Jadi ditawarin tapi saya belum lulus sudah ditawarin masuk ke LAPAN dan waktu itu langsung diajak menghadap kepala LAPAN di Bandung. Saya katakan "Saya belum lulus, saya masih mengerjakan skripsi" kata beliau, "Sudah anggap lulus saja"," ucapnya.
Tanpa berpikir panjang, dia langsung menerima tawaran itu dan mengikuti tes CPNS LAPAN. Setelah melalui serangkaian tes hingga akhirnya dinyatakan lulus sebagai CPNS. Tak lama ia kemudian menghadap dosen pembimbing di ITB untuk memberi tahukan kabar baik tersebut.
"Saya baru tahu bahwa pembimbing saya mau mengusulkan saya jadi dosen di astronomi ITB. Pembimbing saya bilang, "Berhenti saja lah bimbingannya," saya jadi bingung juga sudah diterima di LAPAN kalau tidak lulus ya percuma. Tapi akhirnya di rapatkan ditingkat jurusan kemudian dosen-dosen yang lain bisa memahami," ucapnya.
Selang sebulan setelah dinyatakan lulus Strata 1 pada 1 Oktober 1986, Thomas mengabdi untuk LAPAN dengan menyandang status sebagai ASN. Lima bulan berselang, ia mendapat tawaran beasiswa melanjutkan studi master astronomi di Universitas Kyoto. Tanpa pikir panjang, ia langsung menerima tawaran tersebut.
Di tengah studinya selama dua tahun di Jepang, ia kembali menerima tawaran untuk melanjutkan studi S3 dari universitas yang sama. Ia kembali mengiyakan tawaran tersebut untuk memperdalam ilmu yang sejak lama disukainya itu.
"Saya selesaikan Master dua tahun lalu pembimbing saya mengatakan, "Mau lanjutkan gak ke Doktor?" Wah saya senang sekali dan langsung saya terima tawaran itu," ucapnya.
Semasa melanjutkan studi di Jepang Thomas mengenang sempat membuat jadwal salat untuk dijadikan pedoman saat beribadah. Kala itu ia mengatakan penentuan jadwal salat hanya tersedia untuk daerah Kobe dan Tokyo. Ia kemudian menghitung dan membuat program jadwal salat untuk semua provinsi di Jepang.
Persiapan peluncuran satelit A2. (Foto: ANTARA FOTO/Leily-Setpres)