Departemen Taman Nasional, Satwa Liar dan Konservasi Tumbuhan Thailand (DNP) dalam keterangan resmi mengatakan kematian harimau ini akibat infeksi virus dan faktor genetik perkawinan sedarah.
Wakil direktur jendral DNP Prakit Wongsriwattanakul mengatakan bahwa sebagian besar harimau yang diselamatkan tersebut memiliki sistem kekebalan tubuh yang melemah akibat perkawinan sedarah, mengutip dari Independent.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Angkatan Laut AS Buka Suara Soal Video UFO |
Pendiri LSM Thailand Wildlife Friends Foundation (WFF) Edwin Wiek mengatakan pada CNN, pihaknya telah menyarankan pemerintah untuk memisahkan anak harimau betina dan jantan. Namun, pemerintah malah meletakkannya dalam satu kandang kecil sehingga penyebaran penyakit tidak dapat dihentikan.
"Pihak berwenang seharusnya meminta bantuan dari luar, tetapi sebaliknya bersikeras melakukan semua pekerjaan sendiri," katanya.
Wild Sactuary menjelaskan, hewan hibrid ini akan mengalami kecacatan dan masalah kesehatan yang serius. Tak sedikit juga yang mengalami kelainan jantung, cacat wajah, hingga mati dalam keadaan prematur.
Saat penyelamatan yang dilakukan pada Juni 2016, otoritas setempat juga menemukan sejumlah pelanggaran lainnya. Kuil ditemukan memiliki 40 anak harimau di dalam pendingin. Selain itu, sejumlah organ yang telah dibekukan dan siap dijual juga ditemukan di kuil tersebut.
Lima pria termasuk tiga orang biksu didakwa memiliki bagian-bagian hewan yang terancam punah tanpa izin. (ndn/age)