Fakta 86 Harimau Mati di Penangkaran Thailand

CNN Indonesia | Kamis, 19/09/2019 07:44 WIB
Fakta 86 Harimau Mati di Penangkaran Thailand Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 86 harimau dikabarkan mati pada Senin (16/9) di Thailand. Harimau ini sebelumnya telah diselamatkan dari sebuah kuil pada 2016 silam.

Departemen Taman Nasional, Satwa Liar dan Konservasi Tumbuhan Thailand (DNP) dalam keterangan resmi mengatakan kematian harimau ini akibat infeksi virus dan faktor genetik perkawinan sedarah.

Wakil direktur jendral DNP Prakit Wongsriwattanakul mengatakan bahwa sebagian besar harimau yang diselamatkan tersebut memiliki sistem kekebalan tubuh yang melemah akibat perkawinan sedarah, mengutip dari Independent.


Dilansir dari CNN, 86 dari 147 harimau yang diselamatkan tersebut mengalami sejumlah penyakit, di antaranya adalah penyakit pernapasan dan virus Canine Distember yang umum menyerang hewan seperti anjing dan juga jenis-jenis kucing besar lainnya.

Hewan yang terancam punah tersebut sebelumnya dipindahkan dari kuil Wat Pha Luang Ta Bua Yanasampanno ke sebuah lokasi perlindungan milik pemerintah setempat di Provinsi Ratchaburi. Pemindahan dilakukan untuk menindaklanjuti dugaan kekerasan dan pembiakan liar yang dilakukan oleh pihak kuil.

Saat masih berada di kuil, pengunjung dibebaskan untuk bermain dan berfoto dengan ratusan harimau tersebut. Namun, sejumlah turis juga melaporkan bahwa harimau-harimau tersebut terlihat seperti diberi obat bius.

Pendiri LSM Thailand Wildlife Friends Foundation (WFF) Edwin Wiek mengatakan pada CNN, pihaknya telah menyarankan pemerintah untuk memisahkan anak harimau betina dan jantan. Namun, pemerintah malah meletakkannya dalam satu kandang kecil sehingga penyebaran penyakit tidak dapat dihentikan.

"Pihak berwenang seharusnya meminta bantuan dari luar, tetapi sebaliknya bersikeras melakukan semua pekerjaan sendiri," katanya.

Perkawinan sedarah atau inbreeding dan cross breeding kerap kali dilakukan secara ilegal untuk mendapatkan jenis hibrid yang unik. Kemudian harimau hibrid tersebut dijual dengan harga yang tinggi.

Wild Sactuary menjelaskan, hewan hibrid ini akan mengalami kecacatan dan masalah kesehatan yang serius. Tak sedikit juga yang mengalami kelainan jantung, cacat wajah, hingga mati dalam keadaan prematur.

Saat penyelamatan yang dilakukan pada Juni 2016, otoritas setempat juga menemukan sejumlah pelanggaran lainnya. Kuil ditemukan memiliki 40 anak harimau di dalam pendingin. Selain itu, sejumlah organ yang telah dibekukan dan siap dijual juga ditemukan di kuil tersebut.

Lima pria termasuk tiga orang biksu didakwa memiliki bagian-bagian hewan yang terancam punah tanpa izin. (ndn/age)