Dikutip dari AFP, iklim periode ini diperkirakan naik 1,1 derajat Celcius di atas era pra-industri (1850-1900) dan 0,2 derajat Celcius lebih hangat sejak 2011-2015.
Empat tahun terakhir ini sudah menjadi terpanas sejak pencatatan iklim dan cuaca dimulai pada 1850.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjanjian Paris 2015 mencatat negara-negara yang menetapkan target nasional agar mengurangi emisi agar membatasi kenaikan suhu jangka panjang di bawah dua derajat celcius atau idealnya 1,5 derajat celcius di atas tingkat pra-industri.
Profesor dan Ketua Manajemen Karbon Universitas Edinburgh Dave Reay mengungkap prediksi kenaikan suhu derajat bumi bak limit kartu kredit.
"Kredit karbon global kami sudah maksimal," tambahnya. "Jika emisi tidak mulai turun, akan ada neraka untuk dibayar."
Pada 2018, karbon dioksida global adalah 407,8 bagian per juta (ppm), 2,2 ppm lebih tinggi dari 2017 dan ditetapkan untuk mencapai atau melebihi 410 ppm pada 2019.
"Terakhir kali atmosfer Bumi mengandung 400 bagian per juta CO 2 adalah sekitar 3-5 juta tahun yang lalu," kata laporan itu.
Pada saat itu, suhu permukaan rata-rata global dua hingga tiga derajat Celcius lebih hangat, lapisan es di kedua kutub telah mencair, dan lautan 10 hingga 20 meter lebih tinggi.
Beberapa kejadian besar lainnya mencakup tingkat es laut musim panas Artik telah menurun pada tingkat 12 persen per dekade selama 40 tahun terakhir, dengan empat nilai terendah antara 2015 dan 2019.
Kenaikan permukaan laut juga mempercepat proses pengasaman.
Laporan PBB pun menemukan bahwa gelombang panas adalah bahaya cuaca paling mematikan pada periode 2015-2019, yang mempengaruhi semua benua dan membuat rekor suhu nasional baru.
Musim panas 2019, yang termasuk bulan terpanas yang pernah tercatat. Pada Juli lalu terjadi kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Kutub Utara.
[Gambas:Video CNN] (age)