NASA Temukan Kasus Langka, 3 Lubang Hitam Akan Menyatu

CNN Indonesia | Rabu, 02/10/2019 14:36 WIB
NASA Temukan Kasus Langka, 3 Lubang Hitam Akan Menyatu Temuan tiga lubang hitam oleh NASA (X-ray: NASA/CXC/George Mason Univ./R. Pfeifle et al.; Optical: SDSS & NASA/STScI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah astronom dari Jet Propulsion Laboratory NASA menemukan tiga lubang hitam supermasif (SMBHs) yang tengah berputar dan akan berbenturan dan menyatu membentuk satu lubang hitam besar.

Tiga lubang hitam yang sedang saling berputar ini terletak di pusat galaksi sekitar satu miliar tahun cahaya dari Bumi. Disebutkan bahwa temuan ini termasuk langka.

Temuan tiga lubang hitam ini dihimpun dari data tiga teleskop NASA yang ada dipermukaan Bumi dan di rbit, seperti Sloan Digital Sky Survey (SDSS), Chandra X-ray Observatory, dan Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE).


"Penemuan ini adalah bukti terkuat yang ditemukan astronom untuk melihat tiga sistem yang aktif memberi makan lubang hitam supermasif itu," kata Astronom Ryan Mason dikutip laman resmi JPL NASA.

Menurut Ryan, ia dan tim agak kesulitan menangkap keberadaan tiga lubang hitam tersebut karena mereka diselimuti oleh gas dan debu. Maka, para astronom NASA dan ilmuwan lokal menggabungkan beberapa teleskop untuk mengungkap trio lubang hitam supermasif.

Meskipun terbalut gas dan debu, teleskop Chandra X-ray Observatory dan Wide-field Infrared Survet Explorer (WISE) mampu menembus gas sehingga dapat menampilkan gambar benda langit raksasa itu.

"Kami telah menemukan cara baru untuk mengidentifikasi tiga lubang hitam supermasif. Kami berharap dapat memperluas pekerjaan kami untuk menemukan lebih banyak lagi lubang hitam dengan teknik yang sama," ujar Astronom JPL NASA lain, Pfeifle.

JPL NASA menerangkan ketika tiga lubang hitam akan saling berinteraksi, dua di antaranya harus bergabung menjadi satu. Mereka akan saling tarik-menarik untuk dapat menyatu karena kelebihan energi.

Penggabungan lubang hitam itu bakal menghasilkan gelombang gravitasi. Namun, gelombang ini memiliki frekuensi rendah sehingga sulit bagi Laser Interferometer Gravitational Wave Observatory (LIGO) untuk mendeteksi keberadaan lubang hitam.

Kendati demikian, para astronom masih bisa mendeteksi gelombang gravitasi yang dihasilkan dari penggabungan dua lubang hitam raksasa menggunakan laser milik Badan Antariksa Eropa (ESA), yakni Laser Interferometer Space Antenna (LISA) namun pengerjaan laser belum rampung.

Sebelumnya, NASA telah memilih perusahaan milik Elon Musk, SpaceX untuk menyediakan layanan misi peluncuran Imaging X-Ray Polarimetry Explorer (IXPE). Layanan ini memungkinkan astronom menemukan objek astronomi paling eksotis di alam semesta, seperti lubang hitam.

NASA menargetkan misi IXPE dapat diluncurkan pada April 2021 dengan roket Falcon 9 dari Launch Complex 39A di Florida, AS. IXPE akan menerbangkan tiga teleskop ruang angkasa dengan detektor sensitif yang mampu mengukur polarisasi sinar-X kosmik. (din/eks)