Saat ini ada delapan model LCGC yang ditawarkan Daihatsu, Toyota, Honda, Suzuki, dan Datsun. Dari total delapan produk itu, model paling mahal adalah varian tertinggi Brio Satya yang dijual Rp167,6 juta, sedangkan yang termurah varian terendah Daihatsu Ayla dengan banderol Rp98,1 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pada Januari-Agustus 2019, total penjualan seluruh produk LCGC sejumlah 137.406 unit. Hasil itu turun dibanding pencapaian tahun lalu untuk periode sama, yakni 153.534 unit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pemegang merek menilai harga yang semakin mahal bukan penyebab LCGC ditinggal konsumen Tanah Air. Direktur Pemasaran Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi mengatakan penjualan LCGC terus anjlok karena tren pasar tahun ini sangat tidak bersahabat. Semua penjualan segmen mobil terasa menyusut.
"Kedua penjualan LCGC tidak bisa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, khususnya 2017, karena itu tahun Calya baru launch, wajar sekarang 2019 sudah lebih normal level," kata Anton dihubungi melalui pesan singkat, Senin (7/10).
Kata Anton harga LCGC saat ini masih dalam taraf wajar. Kenaikan banderol disebut mengikuti ketentuan pemerintah, terlebih harga juga dikatakan selaras dengan penambahan fitur.
"Kenaikan harga ini ada beberapa faktor, baik inflasi, kurs (mata uang), pajak, dan add fitur. Rasanya tidak cuma LCGC yang mengalami kenaikan harga," kata Anton.
Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra menuturkan saat ini situasi pasar otomotif sedang berselimut awam hitam. Penjualan masing-masing segmen mobil dan merek terus merosot.
Gaikindo sendiri telah merevisi target penjualan dari semula 1,1 juta unit, menjadi 1 juta unit hingga akhir tahun.
"Mau dibanting harganya jika daya beli tidak ada pasar mobil juga tidak naik. Launch produk-produk baru jika tidak ada daya beli, pasar juga tidak naik," kata Amelia.
Amelia bertutur, hal yang bisa menyelamatkan penjualan LCGC dan segmen lain hanya pertumbuhan ekonomi serta stabilitas keamanan dan politik.
"Kalau demo-demo terus, apalagi demo anarkis ya tidak mendukung ekonomi Indonesia jadi lebih baik," kata Amelia. (ryh/fea)