Huawei Bicara Soal Implementasi 5G di Ibu Kota Baru

Dini Nur Asih, CNN Indonesia | Jumat, 11/10/2019 23:40 WIB
Huawei Bicara Soal Implementasi 5G di Ibu Kota Baru Ilustrasi jaringan 5G. (Foto: CNN Indonesia/Jonathan Patrick)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur ICT Strategy Huawei Indonesia Mohamad Rosidi mengatakan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai infrastruktur atau ICT Infrastructure sangat penting untuk menerapkan konektivitas 5G di ibu kota baru. Infrastruktur berbasis TIK merupakan kebutuhan fundamental yang harus dipenuhi.

"Pada dasarnya, jadikanlah ICT Infrastructure [infrastruktur berbasis TIK] sebagai kebutuhan fundamental sehingga konektivitas 5G dapat diimplentasikan di ibu kota baru," ujarnya kepada awak media di Hotel Hermitage, Jakarta, Jumat (11/10).

Menurut Rosidi, mengimplementasikan jaringan 5G juga harus memiliki rencana terpadu misal menentukan fiber yang akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur di ibu kota baru nantinya, yakni Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara.


Peran stakeholder atau pemangku kepentingan juga menjadi salah satu faktor untuk menerapkan konektivitas 5G.

"Pada saat implementasi, selain mengembangkan ICT Infrastructure, harus ada rencana terpadu seperti menentukan fiber yang kuat dan peran stakeholder pun penting," pungkas Rosidi.

Guna menerapkan 5G di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengatakan penggunaan frekuensi bakal mengacu pada ekosistem 5G di dunia.

Dengan begitu diharapkan para operator di Indonesia bisa berinvestasi dengan lebih murah untuk mengembangkan jaringan 5G.

Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Ismail menjelaskan investasi yang lebih murah ini disebabkan oleh ketersediaan perangkat yang mendukung frekuensi 5G yang telah distandardisasi oleh ekosistem.

"Pada dasarnya kami akan ekosistem terbaik. Dengan itu biaya investasi para operator untuk kembangkan layanan 5G di Indonesia lebih efisien dan hemat," ujar Ismail usai acara konferensi pers diskusi The 25th Asia-Pacific Wireless Group di Tangerang bulan Juli lalu.

Ismail mengatakan nantinya para penyedia atau vendor perangkat 5G pasti akan mengikuti frekuensi yang telah ditentukan oleh ekosistem. Ia mengatakan banyaknya vendor yang mendukung frekuensi ini akan membuat biaya investasi lebih murah.

Jelang perhelatan WRC, Ismail mengatakan Kominfo menyiapkan berbagai frekuensi mulai dari low-band, mid-band, hingga high-band untuk 5G.

Kominfo menyiapkan frekuensi mulai dari 600 MHz hingga 6 GHz, terutama dalam rentang 3,5 GHz hingga 4,2 GHz untuk keperluan 5G. Frekuensi 3,5 GHz dinilai memang cocok untuk menggelar 5G.

Hanya saja saat ini frekuensi 3,5 GHz telah digunakan untuk keperluan satelit. Untuk itu Kemenkominfo melakukan studi agar 5G dan satelit bisa berfungsi bersama menggunakan frekuensi 3,5 GHz.

(din/mik)