Nadiem, Otomotif Indonesia, dan 1,8 Juta Mitra Gojek

CNN Indonesia | Rabu, 23/10/2019 10:16 WIB
Nadiem, Otomotif Indonesia, dan 1,8 Juta Mitra Gojek Nadiem Makarim usai bertemu Presiden Joko Widodo, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (21/10). (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tokoh fenomenal yang jadi menteri, Nadiem Makarim, bukan orang asing dalam dunia otomotif. Selama menjabat sebagai CEO Gojek, pekerjaan pria kelahiran Singapura ini telah melibatkan setidaknya 1,8 juta orang yang sehari-hari mencari nafkah sambil memegang setir mobil ataupun setang sepeda motor.

Prijono Sugiarto, Direktur Utama salah satu investor Gojek, Astra International, pernah mengungkap dalam sesi wawancara dengan CNBC Indonesia pada pertengahan tahun ini bahwa jumlah pengemudi yang terdaftar di Gojek pada awal 2018 sekitar 800 ribu orang.

Namun satu tahun kemudian, tepatnya pada Maret 2019, total pengemudi bertambah menjadi 1,8 juta orang. Dari jumlah itu Prijono mengungkap 600 ribu adalah pengemudi GoCar dan 1,2 juta orang merupakan pengemudi Goride.


Selama dipimpin Nadiem, Gojek telah melakukan terobosan mobilisasi masyarakat dan semakin besar setelah mendapatkan dana segar dari para investor, termasuk Astra International.

Astra Internasional merupakan grup perusahaan otomotif terbesar di Indonesia sekaligus induk perusahaan berbagai penjual, pemasok, dan pemanufaktur otomotif. Anak perusahaan Astra International di antaranya Toyota Astra Motor, Astra Daihatsu Motor, dan Astra Honda Motor.

Investasi Astra International kepada Gojek diketahui terdapat pada pendanaan seri F yang dikucurkan bertahap. Tahap awal Astra International menanamkan modal sebesar US$150 juta (sekitar Rp2 triliun) dan tahap kedua US$100 juta (sekitar Rp1,4 triliun).

Setelah pendanaan, kolaborasi keduanya mulai terlihat. Paling pertama yang diumumkan yaitu membentuk perusahaan patungan bernama Gofleet yang fokus pada bisnis penyewaan Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia khusus buat mitra pengemudi Gocar.

Kolaborasi selanjutnya melibatkan Astra Honda Motor dan motor listrik murni Honda PCX EV. Skutik listrik berbasis rangka PCX 150 mesin bensin itu digunakan mitra GoRide terpilih untuk mengantar konsumen.

Kerjasama dengan Astra Honda Motor juga sekaligus menjadi riset efektivitas motor listrik sebagai alternatif kendaraan transportasi berbasis aplikasi. Hasilnya nanti diharapkan menjadi referensi penelitian dan pengembangan kendaraan listrik pada tahap berikutnya.

Bukan cuma dari otomotif dalam negeri, Gojek saat dinahkodai Nadiem juga mendapat suntikan dana segar dari Mitsubishi Corporation dan Mitsibushi Motors Corporation. Investasi itu ada pada pendanaan seri F yang mencapai US$1 miliar.

Kolaborasi ini disebut bakal membuka peluang pada bidang mobilitas, layanan keuangan, hingga consumer goods. Pada bidang consumer goods nantinya juga dapat dinikmati di empat negara di Asia Tenggara lainnya yaitu Singapura, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Di Indonesia, kerjasama tahap awal yakni membuat Mitsubishi Indonesia dapat memanfaatkan platform Go Auto untuk layanan purnajual. Kerjasama ini memungkinkan pemilik mobil Mitsubishi menikmati layanan dealer Mitsubishi dengan cara memesan melalui aplikasi Gojek.

Konsumen Mitsubishi juga dapat melakukan booking service melalui fitur tersebut. Selain itu pengguna aplikasi Gojek juga dapat melakukan sesi tanya jawab seputar produk dan layanan Mitsubishi.

Berbagai prestasi Nadiem mengembangkan Gojek dan bisnis modern yang berpengaruh pada negara dipercaya menjadi salah satu landasan kuat yang mengarahkannya ke kursi menteri.

Pada Senin (21/10) di Istana Merdeka, setelah menuntaskan pertemuan dengan Jokowi, pria lulusan Harvard Business School ini mengaku ditawari kursi menteri. Pada kesempatan sama dia juga mengatakan telah mengundurkan diri sebagai CEO Gojek. (ryh/fea)