Kominfo: Implementasi 5G di Indonesia Tak Mesti Terburu-buru

CNN Indonesia | Rabu, 30/10/2019 08:09 WIB
Kominfo: Implementasi 5G di Indonesia Tak Mesti Terburu-buru Foto: AFP PHOTO / Pau Barrena
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut implementasi konektivitas 5G di Indonesia tidak harus terburu-buru. Sebab, mempersiapkan infrastruktur 5G harus didukung dengan pemerataan jaringan 4G terlebih dahulu.

Menurut Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Ismail, nantinya core network 4G bakal dimanfaatkan untuk kebutuhan jaringan 5G.

"Operator menyiapkan pemerataan 4G sekarang dengan speed track-nya, ini jadi landasan nanti saat mengimplementasikan 5G karna core network penggunaan 4g akan dimanfaatkan untuk kebutuhan 5G," terang Ismail kepada awak media saat konferensi pers di Gedung Kemenkominfo, Jakarta, Senin (28/10).


"Jadi masuk tepat waktu masuknya, tidak perlu terburu-buru dan tidak perlu terlambat," sambung dia.

Kemenkominfo sendiri tengah menyiapkan uji coba teknis pada beberapa frekuensi seperti 26 Ghz dan 3,5 Ghz untuk jaringan 5G.

Direktur Penataan Sumber Daya Direktorat Jenderal SDPPI Kominfo Denny Setiawan mengungkapkan akan menyiapkan uji coba teknis tersebut.

"Kami akan menyiapkan trial teknis. Bagaimana co-exist antara satelit dan 5G. Karena frekuensi 3,5 Ghz banyak digunakan untuk satelit," ujarnya pada 21 Agustus 2019 lalu di kantor XL Axiata.

Denny menjelaskan banyak yang harus diperhatikan sebelum melakukan uji coba seperti teknis berapa 'pagar' dimensi frekuensi yang dibutuhkan hingga jarak ideal memasang BTS.

Sedangkan untuk frekuensi 26 Ghz, Denny mengungkap ada satu satelit yang saat ini masih mengisi slot tersebut.

"26 Ghz ada satu satelit. Jalan keluarnya, satelit tersebut masih beroperasi hingga 2024. Nanti kami akan bahas apakah akan pindah ke frekuensi lain. Atau bagaimana solusinya," papar Denny.

Selain uji coba teknis, Denny mengungkap aktif membahas masalah ini dengan regulator negara lain, khususnya yang memiliki kasus seperti Indonesia seperti Hong Kong. (Tim CNN Indonesia/age)