Traveloka Buka Suara Soal Suntikan Dana dari BRI

CNN Indonesia | Kamis, 07/11/2019 19:14 WIB
Traveloka Buka Suara Soal Suntikan Dana dari BRI Aplikasi Traveloka. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan agen travel berbasis daring atau online travel agent (OTA) Traveloka menanggapi isu aliran dana investasi dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Menurut mereka, suntikan modal masih dalam tahap penjajakan, belum tahap finalisasi.

"Ide Traveloka sebagai perusahaan nasional yang jadi unicorn dan BRI sebagai perusahaan bank terbesar di Indonesia bersatu untuk memajukan Indonesia itu luar biasa. Tapi memang belum final," kata Public Relations Director Traveloka Sufintri Rahayu usai peluncuran produk Traveloka Vila & Apartemen di Jakarta, Kamis (7/11).

Sufintri mengklaim, selain BRI, ada beberapa perusahaan berada dalam tahap penjajakan perihal penyuntikan modal ke Traveloka.


Ketika ditanya perihal finalisasi investasi pada Desember 2019, Sufintri mengatakan tidak dapat memprediksi hal tersebut.

"Kalau itu kan diskusi, secepatnya akan kami beri tahu," kata Sufintri.

Menurut Sufintri, BRI dan Traveloka memiliki sejarah yang panjang. Sejak masih menjadi perusahaan rintisan (startup), BRI telah bekerja sama dengan Traveloka.

Kerja sama yang terbaru adalah Pay Later Card. Produk ini menawarkan pengalaman pengguna secara end to end melalui aplikasi Traveloka.

Pengguna dapat membeli seluruh produk dalam layanan Traveloka mulai dari tiket perjalanan, kebutuhan gaya hidup, akses Traveloka Eats, hingga membeli asuransi.
[Gambas:Video CNN]
Dalam kesempatan yang sama, Traveloka juga meluncurkan produk akomodasi terbarunya, yaitu Vila & Apartemen. Sejak tersedia di platform Traveloka dua bulan lalu hingga saat ini, Traveloka telah menyediakan lebih dari 240 ribu vila dan apartemen.

Jaringan vila dan apartemen ini tersebar di Indonesia, Asia Tenggara, Benua Amerika dan Benua Eropa.

Bisnis Traveloka Moncer Meski Harga Tiket Pesawat Mahal

Dalam kesempatan yang sama, manajemen Traveloka mengatakan harga tiket pesawat yang mahal pada awal 2019 tidak berdampak negatif pada bisnis Traveloka secara keseluruhan. Pasalnya, pengguna tetap membutuhkan tiket pesawat untuk aktivitas bisnis dan momentum hari raya.

"Orang membeli pesawat itu kan terjadwal, jadi harus melakukan itu mau tidak mau. Harganya berapa itu tetap dibeli sama dia. (Bisnis) tidak stagnan terus berkembang," kata Sufintri.

Menurut Sufintri, November merupakan masa-masa ramai penumpang (peak season) yang hendak membeli tiket menjelang libur Natal dan Tahun Baru.

Kendati demikian, Sufintri enggan mengungkap jumlah atau nominal transaksi tiket pesawat di Traveloka.

"Konsumennya memang ada, tapi lebih harus mengeluarkan kocek lebih. Bisnis kami tetap berkembang," ujarnya.

Sebelumya, Head of Growth Management Traveloka Iko Putera mengatakan harga tiket pesawat yang mahal berdampak negatif pada volume penjualan tiket pesawat di Traveloka selama kuartal I 2019.

Iko hanya menjelaskan porsi penjualan tiket pesawat di Traveloka saat ini masih mendominasi, yakni mencapai 67 persen dari total penjualan tiket transportasi lain. (jnp/lav)


ARTIKEL TERKAIT