LIPI: Riset Jakarta Tenggelam Tahun 2050 Bisa Jadi Kenyataan

CNN Indonesia | Senin, 11/11/2019 13:18 WIB
LIPI: Riset Jakarta Tenggelam Tahun 2050 Bisa Jadi Kenyataan Ilustrasi kota Jakarta. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengingatkan gabungan kenaikan permukaan laut dan penurunan permukaan tanah bakal membuat risiko Jakarta tenggelam makin tinggi.

Hal ini diungkap Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Robert Delinom, menanggapi penelitian yang dirilis oleh Nature Communication.

Dalam penelitian itu, disebutkan kalau Jakarta bersama dan kota pesisir di sejumlah negara akan tenggelam pada 2050. Tenggelamnya kota-kota ini akibat dari kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global.


"Gabungan keduanya yang menyebabkan daerah yang tenggelam menjadi lebih luas. Tapi sampai 2050 faktor penurunan tanah lebih dominan (membuat Jakarta tenggelam)," kata Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Robert Delinom, Senin (11/11).

Berdasarkan hasil penelitian pada 2000 hingga 2005, permukaan tanah Jakarta mengalami penurunan sekitar lima hingga 15 sentimeter setiap tahun.

"Kondisi air bawah tanah yang buruk setiap tahunnya sangat berpengaruh dalam tatanan keseimbangan bagian bawah permukaan Jakarta yang meliputi kondisi tanah, mineral tanah serta aliran air bawah tanah tersebut," ujar Robert.

Jika Jakarta tidak segera berbenah, maka ancaman buruk seperti Jakarta Tenggelam 2050 bisa menjadi kenyataan. Sebab, ia mengatakan saat ini permukaan tanah masih mengalami penurunan.

"Besar penurunan permukaan tanah berbeda-beda di setiap wilayah. Faktor utamanya adalah kondisi air bawah tanah yang kualitasnya semakin menurun," tekannya.

Di sisi lain, faktor lain yang ikut mendukung penurunan permukaan tanah adalah pertambahan bangunan dalam skala masif yang terjadi setiap tahun.

[Gambas:Video CNN]

Bangunan-bangunan untuk kepentingan industri, perkantoran, perumahan menyebabkan daerah resapan air semakin menipis. Hal itu harus ditata ulang oleh pemerintah.

Robert menyebut Jakarta bagian tengah, pembuatan bangunan masif dan perkantoran masih aman dilakukan. Namun, ia menyarankan di bagian selatan Jakarta untuk diperbanyak wilayah terbuka hijau dan lokasi parkir air (tempat bermuara air).

"Tempat-tempat yang kelihatannya turun perlu juga memperluas tempat-tempat parkir air seperti di wilayah utara dan barat Jakarta," saran Robert.

Oleh karena itu, ia meminta agar pemerintah mengubah pola pembangunan kawasan di Jakarta. Ia pun menyarankan agar wilayah utara Jakarta tidak ada lagi pembangunan masif.

(jnp/eks)