Ada BRIN, Kemenristek Masih Bungkam Soal Nasib LIPI dan BPPT

CNN Indonesia | Jumat, 01/11/2019 13:11 WIB
Kemenristek masih bungkam soal kelanjutan nasib LIPI dan BPPT jika BRIN berdiri kelak. Pemerintah telah menetapkan akan membentuk BRIN untuk mengintegrasikan riset dan invoasi, namun nasib LIPI dan BPPT ke depan masih belum jelas (Fathiyah dahrul)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) belum mau buka suara soal 'nasib' Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) jika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah selesai dibentuk.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenritek Muhammad Dimyati mengatakan ada atau tidaknya LIPI dan BPPT tergantung pada hasil dari kesepakatan anggota BRIN yang tengah disusun.

"Saya tidak bisa menjawab [apakah LIPI dan BPPT ditiadakan setelah ada BRIN]. Nanti kita lihat organisasi ristek BRIN yang sedang disusun," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (31/10) malam.


Senada dengan Dimyati, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro menyebut tengah mencari formasi yang terbaik terkait posisi LIPI dan BPPT. Namun yang pasti, nantinya BRIN bakal mengintegrasikan seluruh riset dari hulu ke hilir. BRIN juga disebut menjadi wadah agar sebuah inovasi dapat dikomersialisasi.

"Nanti BRIN konsepnya akan ditekankan bahwa harus ada integrasi antara riset hulu [riset dasar] sampai menjadi inovasi lalu ke komersialisasi produk," kata dia kepada awak media usai pembukaan acara High Level Meeting on Science, Technology and Higher Education Coorporation di Universitas Hasannudin, Makassar, Kamis (31/10) kemarin.

Pembentukan BRIN sendiri didasarkan pada Undang-undang Sisnas Iptek yang disusun sejak 2014 sebagai pengganti Undang-undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek kemudian diajukan ke DPR pada 2017.

Lebih lanjut, Dimyati menjelaskan soal perbedaan tugas antara Badan Riset dan Inovasi (BRIN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Menurutnya, BRIN bertugas untuk mensinergikan penyusunan rencana, program, anggaran, dan sumberdaya Iptek.

"BRIN nantinya harus bisa menjawab harapan-harapan presiden dan masyarakat dalam mewujudkan ekosistem riset dan inovasi yang baik," tuturnya.

Sementara LIPI melaksanakan penelitian dan pengembangan yang lebih menghasilkan invensi. Invensi ini masih berupa ide untuk pemecahan masalah berupa baik berupa proses maupun pengembangan produk. Sedangkan BPPT berperan sebagai eksekutor ide. Badan ini melakukan pengkajian dan penerapan untuk menghasilkan inovasi.

Lebih lanjut, Damyati mengatakan susunan anggota BRIN saat ini masih digodok dan direncanakan resmi diperkenalkan tahun 2020.

"Untuk tahun 2020 sedang disiapkan organisasi Ristek-BRIN kemudian nanti bicara soal anggaran riset," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan akan fokus pada program, struktur dan implementasi BRIN, serta mensinergikan program-program pendidikan tinggi dengan Kemendikbud. Menurut Bambang, hal ini akan jadi fokus program 100 hari kementeriannya. (din/eks)