Startup Lokal Jadi Unicorn, Pola Baru VS Mimpi Semu

CNN Indonesia | Senin, 18/11/2019 07:57 WIB
Startup Lokal Jadi Unicorn, Pola Baru VS Mimpi Semu Ilustrasi startup. (Gather)
Badung, CNN Indonesia -- Kalangan eksekutif mengklaim ambisi perusahaan rintisan (startup) untuk menjadi unicorn bukan lagi mimpi di siang bolong. Berdasarkan klaim pemerintah, setidaknya akan ada tambahan dua startup yang menjadi 'raksasa' baru dalam kurun satu tahun ke depan.

Unicorn adalah status perusahaan rintisan milik swasta yang memiliki nilai kapitalisasi lebih dari US$1 miliar.

Menteri Riset, Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro optimistis Indonesia mampu melahirkan dua unicorn baru pada awal 2020.

Kemunculan unicorn baru akan melengkapi lima startup unicorn nasional lain, yakni Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, Ovo, dan Gojek. Bahkan Gojek telah menyandang status decacorn dengan nilai valuasi di atas US$10 miliar.

"Saat ini officially unicorn-nya lima, berpotensi nambah dua lagi. Akhir tahun ini. Jadi mudah-mudahan memasuki tahun baru 2020 nanti, unicorn kita bisa tujuh," ujar Bambang.

Bambang optimistis karena melihat pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia yang naik signifikan dan diprediksi terus melonjak.


Bambang meyakini Indonesia menjadi negara dengan startup unicorn terbanyak di Asia Tenggara. Bahkan masuk menjadi 10 negara dengan startup unicorn terbanyak di dunia.

Senada, Ketua Dewan Pembina yayasan independen Nexticorn Rudiantara berambisi mendorong terciptanya tiga unicorn baru tahun depan. Hal itu diharapkan terutama berasal dari pertemuan tahunan, Nexticorn International Summit 2019.

Nexticorn merupakan yayasan independen yang bertujuan menciptakan startup unicorn baru di Indonesia. Hal ini dilakukan guna mendukung Indonesia menjadi pusat ekonomi baru berbasis digital di dunia.

"Harapannya, melalui summit ini dapat memicu terciptanya tiga unicorn baru di tahun depan, sehingga dapat mendorong Indonesia untuk menjadi The New Economy Global Hub," ungkap Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut.


[Gambas:Video CNN]

Berdasarkan laporan terbaru dari Google dan Temasek, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi baru yang paling pesat di kawasan Asia Tenggara dalam lima tahun terakhir.

Pada 2019, ekonomi digital Indonesia diklaim telah mencapai US$40 miliar atau tumbuh lima kali lipat dibanding 2015 yang hanya sebesar US$ 8 miliar. Dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 49 persen per tahun, pencapaian ekonomi digital Indonesia bahkan diyakini dapat menembus US$ 130miliar pada 2025.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri terdapat banyak kerikil yang menghambat laju startup menuju status unicorn.

Co-Founder startup Tamasia Muhammad Assad menilai perusahaan rintisan secara alami akan naik kelas jadi unicorn jika bisa menjadi solusi bagi persoalan yang ada di masyarakat secara lebih murah dan cepat, bukan hanya mengikuti tren yang ada saat ini.

"Di Indonesia, perkembangan startup jadi unicorn sudah cukup bagus dibanding negara di Asia Tenggara, meskipun kalau dibanding India masih belum bisa menang. India setiap bulan mencetak dua unicorn baru," sebutnya.


Kendati demikian, persoalan eksternal yang sering dihadapi startup ialah unicorn yang sudah ada di Indonesia kerap mengambil banyak tenaga ahli yang tersedia. Dengan demikian, startup yang masih baru berkembang jadi kesulitan mendapat tenaga ahli yang potensial.

Direktur Pintek Ioann Fainsilber mengakui tantangan terbesar startup di Indonesia saat ini ialah keterbatasan jumlah tenaga ahli, khususnya di bidang digital. Padahal, tenaga ahli merupakan salah satu aset bagi perusahaan rintisan.

Co-founder startup pembiayaan pendidikan itu menyarankan pemerintah untuk terus berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang digital melalui berbagai program kerja.

Pemerintah Akui Banyak Batu Sandungan

Selaku eksekutif, Bambang Brodjonegoro mengakui masih banyak kendala yang dihadapi startup untuk tancap gas menuju level unicorn. Hambatan utama berasal dari persoalan sumber daya manusia (SDM).

Menurut dia, jika startup ingin menjadi unicorn dan bertahan di industri riil, maka perusahaan harus memiliki divisi riset dan pengembangan produk yang kuat.

"R and D (research and development) butuh SDM terutama bidang teknologi informasi yang juga kuat dan banyak. Kita terus terang masih kurang," ujar Bambang.

Untuk itu, lanjut dia, pemerintah terus berupaya memperbaiki kualitas SDM melalui sistem pendidikan dan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, kebutuhan yang sebelumnya bergantung pada tenaga ahli luar negeri secara perlahan bisa tergantikan oleh tenaga kerja domestik.


Kedua, soal pendanaan. Bambang mengakui investor dalam negeri masih memiliki keterbatasan dan belum terlalu bisa mengukur risiko bisnis digital. Dengan demikian, investasi dari luar negeri di bidang digital masih diperlukan.

Ketiga, persoalan regulasi. Untuk itu, pemerintah terus menerus akan berupaya untuk memperbaiki kebijakan yang terkait pengembangan startup. Khususnya, aturan yang menimbulkan gesekan antara startup digital dan startup konvensional.

Ke depan, Bambang mengklaim akan berupaya melakukan pembinaan dan memfasilitasi startup untuk memperoleh pendanaan dari investor dalam dan luar negeri.

Chairman yayasan independen Nexticorn Daniel Tumiwa mengibaratkan langkah startup untuk menjadi unicorn layaknya dunia musik. Dari 100 band, hanya satu atau dua kelompok yang mampu mencapai hits tangga lagu teratas tanpa ada rumusan teknis yang mendasarinya.

"Ibarat musik, 50 persen usaha keras, sisanya 50 persen lagi faktor luck. Sulit dirumuskan bagaimana strategi yang valid," ujarnya.

"Sulit dirumuskan bahwa yang membuat gojek meledak adalah gofood bukan gopay. Tokopedia jatuh bangun dengan cash habis berulang-ulang tapi toh jadi Unicorn. Apakah ada produk yang lebih bagus? mungkin ada, tapi yang lain gugur. Benar-benar tak ada rumusan," sambungnya.

Hal yang menarik, Daniel menilai investor kadang menentukan kesuksesan perusahaan, bukan hanya startup yang berusaha sendiri. Intinya, perlu ada karakteristik dan visi yang sejalan.

(lav/lav)