Tren Teknologi

7 Inovasi Kantong Plastik, dari Singkong hingga Kulit Ikan

CNN Indonesia | Sabtu, 16/11/2019 08:05 WIB
Inovasi kantong plastik alternatif dari tumbuh-tumbuhan telah dibuat, mulai dari singkong hingga kulit ikan. Inovasi bioplastik kini sudah marak dibuat sebagai kantong plastik alternatif, mulai dari singkong hingga kulit ikan (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penggunaan kantong plastik saat ini telah menyebabkan permasalahan lingkungan yang amat serius. Berbagai inovasi pun diciptakan untuk membuat kantong plastik alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Kantong-kantong plastik yang dikenal sebagai bioplastik ini memang dibuat dari tumbuh-tumbuhan hingga kulit ikan. Bioplastik ini dibuat agar wadah praktis tersebut lebih mudah diurai. Sebab, plastik dari bahan kimia yang kini populer digunakan perlu waktu sangat lama agar bisa terurai.

Akibatnya, plastik-plastik ini malah bertumpuk di permukaan Bumi hingga akhirnya bersarang di tubuh mahkluk hidup lain, hingga ke tubuh kita, manusia.


Akhir 2018 lalu, lebih dari 5 kilogram sampah plastik berupa botol minum, tali rafia, hingga sandal ditemukan di dalam perut paus yang mati dan terdampar di perairan Wakatobi.


Penelitian yang dilakukan Jenna Jambeck bahkan menyebut Indonesia sebagai negara kedua penyumbang sampah plastik terbanyak ke lautan, setelah China. Meski metodologi riset masih dipertanyakan, penelitian ini menyebut sebanyak 275 metrik ton sampah plastik memenuhi 192 negara berpantai.

Sebelumnya, paparan dari World Economic Forum pada 2016 juga menyebut lebih dari 150 juta ton plastik tersebar di lautan. Pada 2025, diprediksi rasio plastik dibandingkan ikan di samudra mencapai 1:3. Jumlah plastik diperkirakan terus bertambah menjadi 250 juta ton, sementara jumlah ikan kian menyusut.


Singkong


Singkong atau yang juga dikenal dengan sebutan cassava merupakan tumbuhan yang sering dijumpai di wilayah tropis seperti Indonesia, Brazil, dan India.

Inovasi ini salah satunya pertama kali dikenalkan oleh sebuah perusahaan bernama Telobag asal Indonesia. Berbahan dasar pati ketela atau singkong, kantong ini diklaim dapat kembali menyatu dengan tanah dan menjadi kompos alami dalam waktu dua sampai enam bulan tanpa adanya rekayasa.

Selain itu juga dapat dengan mudah larut di air dalam suhu tertentu sehingga pengguna tak perlu khawatir kantongnya akan larut saat terkena hujan. Perusahaan ini menawarkan kantong nabati berbagai ukuran juga kantong kotoran hewan.

Di Indonesia, plastik berbahan singkong ini telah diproduksi oleh Avani Eco. Perusahaan ini telah berdiri sejak 2014. Berbagai produk sekali pakai ramah lingkungan juga ditawarkan perusahaan ini. Misalnya seperti poncho, sedotan, kantong belanja, kemasan makanan, hingga alat makan.

Rumput Laut


Bahan lain yang juga sangat mudah ditemukan di Indonesia adalah rumput laut. Perusahaan lokal yang mengembangkan produk ini adalah Evoware.

Dilansir dari The Guardian, startup asal Indonesia ini telah mampu memproduksi kemasan yang bahkan dapat dimakan seperti gelas jeli, sachet, juga kantong kopi.

Namun menurut CEO David Christian, saat ini Evoware belum mampu memproduksi dalam skala massal karena semua masih dibuat secara manual.

Secara harga, penggunaan rumput laut ini masih bernilai 30 persen lebih tinggi dibanding plastik biasa sehingga masih menjadi tantangan tersendiri.

Menurut David, saat ini 80 persen pengguna produknya berasal dari luar negeri. Padahal Indonesia merupakan salah satu negara penghasil rumput laut terbesar di dunia.

Jamur

Seorang desainer asal Belanda bernama Maurizio Montalti dan juga ahli Biologi dari Utrecht University Han Wösten mengembangkan jamur atau miselium yang dapat menggantikan plastik dan juga bahan-bahan yang tak dapat didaur ulang lainnya.

"Jamur adalah pendaur ulang besar di dunia alami," kata Montalti. "Sebagai seorang mahasiswa, saya mulai menumbuhkan minat dengan cara baru dalam memproduksi materi yang tidak lagi bergantung pada eksploitasi sumber daya tertentu," katanya pada Smithsonian.

Miselium yang merupakan struktur dari akar jamur ini ternyata memiliki kekuatan yang sama dengan PVC. Di bawah perusahaan Ecovative, jamur tersebut kemudian dikembangkan untuk mengganti bahan yang menggunakan plastik, karet, kayu, kulit, hingga daging.

Sebelum jadi, jamur harus dicetak terlebih dahulu sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Butuh waktu sekitar beberapa minggu yang bergantung pada ukuran cetakan untuk menumbuhkan jamur.

Setelah memenuhi cetakan, tahap selanjutnya yaitu memanggangnya agar pertumbuhannya terhenti.
Beberapa perusahaan ternama seperti IKEA dan Dell telah berencana mengganti sebagian kemasan produk dengan styrofoam berbahan jamur.

[Gambas:Video CNN]

Kentang

Di tahun 2012, seorang pria asal India Ashwath Hegde mendirikan EnviGreen yang memproduksi kantong plastik dari campuran 12 bahan alami dengan bahan utama kentang dan tepung tapioka.

Dilansir dari The Civil Engineer, bahan-bahan mentah yang juga termasuk jagung, minyak sayur, pisang, dan minyak dari bunga. Seluruh bahan tersebut kemudian dicampur menjadi bahan berbentuk cair lalu siap untuk dicetak sesuai ukuran kantong.

"Biaya sekitar 35 persen lebih tinggi dari kantong plastik, tetapi 500 persen lebih murah dari tas kain. Untuk memberi Anda gambaran kasar, tas EnviGreen berukuran 13 inci kali 16 inci harganya Rs. 3, sedangkan kantong plastik dengan dimensi yang sama akan dikenakan biaya Rs. 2 ", kata Ashwath.

Kantong ini diklaim dapat hancur dengan sendirinya di alam kurang dari 180 hari. Kantong juga dapat larut dalam air dengan suhu tertentu.

Setiap bulannya, EnviGreen memproduksi hingga 1000 ton plastik untuk dijual di India hingga Qatar dan Abu Dhabi.

Kulit ikan dan rumput laut
7 Kantong Plastik Alternatif, dari Singkong hingga Kulit IkanRumput laut (CNN Indonesia/Safir Makki)

Inovasi kantong ramah lingkungan ini diciptakan oleh perusahaan MarinaTex asal Inggris. Digagas oleh seorang mahasiswa University of Sussex bernama Lucy Hughes sebagai desain produk di tahun terakhirnya. Lucy menggabungkan agar atau rumput laut dengan kulit ikan sebagai pengganti plastik.

Dilansir dari Cnet, kulit ikan mengandung banyak protein yang fleksibel. Sementara agar bekerja sebagai zat pengikat untuk menyatukan bahan.

Lucy juga mengatakan pada The Engineer bahwa satu ekor ikan kod atlantik dapat menghasilkan limbah organik yang dapat digunakan untuk membuat 1400 kantong MarinaTex. Kantong ini dapat terurai di lingkungan tanah dalam waktu kurang dari sebulan.

Lucy juga baru saja menerima penghargaan James Dyson Award yang berfokuskan pada desain yang mampu menyelesaikan masalah.

Kulit mangga dan rumput laut

Produk ini merupakan pengembangan dari inovasi kantong berbahan dasar rumput laut. Denxybel Montinola, seorang ilmuwan berusia 23 tahun asal Filipina mengadopsi temuan terdahulu dan menambahkannya dengan kulit mangga.

"Bioplastik ini dibuat menggunakan komponen yang disebut pektin dan karagenan, yang berasal dari kulit mangga dan rumput laut," kata Montinola kepada CDN Digital.

Kedua bahan dasar tersebut dipilih karena dapat dengan mudah ditemukan di Filipina. Dilansir dari Rfi, hasil gabungan keduanya dapat menghasilkan kolagen yang juga dapat bermanfaat bagi dunia medis, khususnya untuk pengobatan kulit.

Saat ini dirinya mengatakan telah dihubungi oleh departemen perdagangan dan industri Filipina untuk merealisasikan inovasinya tersebut.

Daun Palem

Selain kantong belanja, penggunaan plastik sebagai alat makan sekali pakai juga menjadi permasalahan lingkungan. Namun, sebuah inovasi menggunakan dedaunan sebagai alat makan telah dikembangkan.

Patra, perusahaan alat makan sekali pakai ini memanfaatkan daun palem kuning yang telah gugur dan membuatnya menjadi berbagai produk ramah lingkungan.

Daun dikumpulkan dan dicetak dengan metode heat pressing. Produk akan secara alami terurai di alam dalam tiga hingga enam minggu. (ndn/eks)