Pengusaha Dorong Proyek Baterai Mobil Listrik dari Pemerintah

CNN Indonesia | Jumat, 29/11/2019 02:10 WIB
Kadin Indonesia mengatakan, menghasilkan kendaraan listrik menjadi lebih mudah bila negara sudah menguasai industri baterai. Ilustrasi baterai mobil listrik. (Bill Pugliano/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai pelaku industri otomotif dan pemerintah harus mengutamakan produksi baterai di dalam negeri sebelum berbicara produksi kendaraan listrik.

Wakil Ketua Kadin Johnny Darmawan mengatakan komponen utama kendaraan listrik adalah baterai. Sementara itu Indonesia diyakini berlimpah bahan baku baterai sebab itu komponen ini dikatakan mesti menjadi paling utama.

"Karena kita itu punya bahan baku segala macam. Jadi bikin di baterai dulu," kata Johnny di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (27/11).


Ia mengatakan baterai merupakan komponen inti kendaraan listrik yang mewakili 40 persen sampai 60 persen jumlah komponen kendaraan listrik. Johnny yakin Indonesia bisa menjadi produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia.

"Jadi kita bisa menjadi produsen baterai terbesar di dunia. Nantinya hanya tinggal [memproduksi] control unit baterainya saja yang belum ada di sini," kata dia.

Pemerintah Indonesia diketahui telah meresmikan kawasan industri baterai listrik di Weda Bay, Halmahera, Maluku yang dikelola PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). IWIP adalah perusahaan patungan dari tiga investor Tiongkok yaitu Tsingshan, Huayou, dan Zhenshi yang fokus menghasilkan baterai lithium-ion.

Selain di Maluku, pemerintah juga mmebangun kawasan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Morowali, Sulawesi Tengah.

Proyek industri smelter berbasis teknologi hydrometallurgy ini akan memenuhi kebutuhan bahan baku baterai lithium generasi kedua nikel kobalt yang dapat digunakan untuk kendaraan listrik. Total investasi yang ditanam US$700 juta dan akan menghasilkan devisa senilai US$800 juta per tahun.

"Jadi kalau menurut saya sebagai pelaku industri push dulu baterainya. Baru setelah itu negara punya mobil [listrik] yang lahir di Indonesia," ucap dia.

Senada Johnny, Ketua Umum Kadin Rosan Perkasa Roeslani bilang Indonesia punya kapasitas penting untuk menjadi pemain utama dalam rantai kendaraan listrik global.

"Jadi 60 persen biaya produksi komponen kendaraan listrik ada di baterai. Dari sini saja Indonesia memiliki daya saing yang kuat, karena jika komponen baterai diimpor dari luar, biaya produksinya tentu akan sangat mahal," kata Rosan. (ryh/fea)