Selain Megathrust, Waspadai juga Gempa Sesar Aktif

CNN Indonesia | Minggu, 01/12/2019 20:31 WIB
Selain Megathrust, Waspadai juga Gempa Sesar Aktif Ilustrasi. BMKG minta masyarakat tak terpaku pada gempa megathrust saja, tapi sebenarnya gempa sesar aktif yang kerap makan korban harus lebih diwaspadai. (AP Photo/Petros Giannakouris)
Jakarta, CNN Indonesia -- BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika) memperingatkan agar masyarakat tak hanya terpaku pada gempa megathrust atau gempa besar. Tapi, perlu lebih waspada juga pada gempa sesar aktif yang kerap makan korban. 

Kondisi lempengan di sebagian wilayah Indonesia ini menimbulkan ancaman gempa nyata baik dalam skala kecil maupun besar seperti megathrust. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang termasuk dalam wilayah gempa bumi teraktif di dunia atau disebut juga sebagai Ring of Fire.

Saat ini terdapat 6 tumbukan lempeng yang jika dirinci menjadi 13 segmen megathrust di seluruh wilayah Indonesia.

Namun Kepala Bidang Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan alih-alih megathtust, masyarakat mesti lebih waspada pada gempa sesar aktif di sekitar kita.



"(Sebanyak) 295 sesar aktif kebanyakan berada di darat. Itulah yang harus kita waspadai. Jangan terbayang mimpi buruk megathrust tapi terlupakan yang di dekat kita padahal gempa tersebut sifatnya destruktif," jelas Daryono dalam konferensi pers di kawasan Senen, Jakarta, Jumat (29/11).

Sebab, menurut Daryono, gempa-gempa besar yang menelan banyak korban di Lombok maupun Palu merupakan gempa akibat pergeseran sesar aktif.

Di acara yang sama, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto menekankan untuk mengurangi korban gempa, warga perlu membuat bangunan tahan gempa.

Sebab, besar magnitudo suatu gempa tak akan menelan korban jiwa yang banyak apabila konsep tata ruang dan juga konstruksi bangunan dibuat sedemikian rupa agar tahan gempa. Ia pun mencontohkan gempa besar di Chile pada 1960. Gempa ini bayak memakan korban akibat bangunan roboh.

"Tapi tidak ada satupun yang menjadi korban akibat gempa," jelas Eko. 

Sehingga, menurutnya kerawanan dan tingginya korban gempa itu akibat kecerobohan manusia itu sendiri dalam membuat struktur bangunan.

Lebih lanjut, Daryono meminta masyarakat tak perlu khawatir soal kedua gempa itu jika telah memiliki pemahaman mitigasi yang baik. Sebab, pencegahan dampak buruk akibat gempa dapat diminimalisir apabila mengikuti konsep mitigasi yang baik. Salah satunya adalah dengan membangun bangunan dengan struktur yang kuat dan tahan gempa.

"Selain itu juga garis pantai, kita harus tata yang benar, kalau ada histori tsunami, jangan berani-berani bikin tempat usaha atau pemukiman dekat pantai, itu sangat berisiko," jelasnya.

Daryono pun memberikan sejumlah tips terkait membuat bangunan yang aman. Sebab, menurutnya dengan bangunan konstruksi tahan gempa justru menyelamatkan diri kita sendiri.


Meski menurutnya, bangunan tahan gempa memang butuh biaya pembangunan yang relatif lebih mahal.

"Kalau tidak mampu jangan gengsi membuat rumah dari kayu dan bambu. Jangan karena gengsi bangun rumah asal asalan. itu bahaya," tuturnya.

Selain itu, pembangunan di tepi pantai juga mesti memerhatikan apakah ada jejak sejarah terjadi tsunami di pantai itu atau tidak.

Jika menurut para ahli ada histori tsunami, sebaiknya bangunan, pemukiman, atau infrastruktur penting di pinggir pantai jangan langsung dibangun di tepi pantai. Tapi, sebaiknya mundur lagi 300 sampai 500 meter dari bibir pantai. (ndn/eks)