Diapit Dua Samudera, Indonesia Turut Menentukan Iklim Dunia

CNN Indonesia | Senin, 18/11/2019 17:53 WIB
Diapit Dua Samudera, Indonesia Turut Menentukan Iklim Dunia Ilustrasi Samudera Indonesia. (ANTARA FOTO/Rahmad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pejabat di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan keberadaan Indonesia di persimpangan antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik berperan menentukan iklim dunia.

"Bagaimana kita mengetahui fenomena interaksi antara samudera dan atmosfer, ini menjadi pengetahuan yang sangat penting untuk melihat iklim," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI Nugroho Dwi Hananto seperti dilaporkan Antara, Senin (18/11).

Keberadaan Indonesia di antara dua Samudera itu, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk anomali iklim, seperti musim panas namun intensitas hujan masih tinggi maupun sebaliknya musim hujan yang juga banyak panas. Selain itu, bisa juga meneliti soal fenomena El Nino maupun La Nina.


"Secara teknis kira-kira demikian keberadaan Indonesia yang turut menentukan iklim dunia," katanya.

Menurut dia, penelitian yang dilakukan LIPI di Perairan Selatan Jawa, Selat Bali hingga ke Selat Makasar pada 18 hingga 25 Desember akan berguna bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Apalagi, katanya, hingga kini pemerintah melalui LIPI belum memiliki data akurat terkait adanya El Nino dan La Nina serta perubahan iklim. Sehingga, perlu penelitian mendalam untuk mengetahui apa saja pengaruh Indonesia yang diapit dua samudera tersebut.

Riset tentang prediksi iklim bisa saja dilakukan menggunakan teknologi satelit, hanya saja tidak begitu akurat jika dibandingkan penelitian laut dengan mengambil data real di lapangan, katanya.

Penelitan yang dilakukan LIPI dimulai dari Jakarta mengarungi Samudera Hindia hingga ke Banyuwangi. Kemudian, pada etape kedua lanjut menuju Selat Makassar dan kembali ke Jawa.

[Gambas:Video CNN]

Riset tersebut, katanya, juga akan menggali interaksi samudera dan atmosfer yang penting untuk memperluas horizon pengetahuan Indonesia tentang pergaruhi dinamika samudera dan atmosfer yang mempengaruhi pola cuaca dan iklim Indonesia. Penelitian tersebut akan memakan waktu selama 37 hari di laut lepas. 

Teliti Kenaikan Massa Air Laut Indonesia

Selain itu, LIPI juga meneliti berbagai potensi yang terdapat di arus lintas batas Indonesia di Perairan Selatan Jawa, Selat Bali hingga ke Selat Makasar, salah satunya kenaikan massa air laut.

"Penelitian ini untuk mendapatkan informasi penting soal fenomena kenaikan massa air laut dan juga potensi keanekaragaman hayati laut," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI Tri Nuke Pudjiastuti.

Ia mengatakan bentuk geografis Indonesia di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia berperan sebagai kanal penghubung yang mengalirkan massa air. Para peneliti menamakan kanal penghubung tersebut dengan sebutan 'The Indonesian Throughflow' atau arus lintas Indonesia.

"Arus ini memungkinkan air tawar hangat bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia di garis lintang rendah," kata dia.


Ia menjelaskan arus tersebut berperan sebagai cabang tertinggi dalam sabuk pengangkut panas global.

Senada, Nugroho Dwi Hananto menjelaskan topografi permukaan Samudera Pasifik bagian barat yang lebih tinggi dari Samudera Hindia, menggerakkan air termoklin atas dari Pasifik Utara melewati rute barat Selat Makassar dan keluar melalui Selat Lombok atau mengalir ke timur ke Laut Banda.

"Aliran lambat air Pasifik Selatan yang lebih asin dan padat melewati Selat Lifamatola menuju Laut Banda," katanya.

Kemudian, massa air bercampur karena efek pasang surut, spiral ekman dan percampuran air tawar hangat di permukaan samudera. Dari Laut Banda, arus lintas Indonesia keluar lewat Laut Timor, Selat Ombai dan Selat Lombok.

Riset tersebut juga akan menggali interaksi samudera dan atmosfer yang penting untuk memperluas horizon pengetahuan Indonesia tentang pengaruh dinamika samudera dan atmosfer yang mempengaruhi pola cuaca dan iklim Indonesia.

(Antara/DAL)