XL Usul Berbagi Spektrum Antar Operator Bangun Jaringan 5G

din, CNN Indonesia | Senin, 02/12/2019 20:47 WIB
XL Usul Berbagi Spektrum Antar Operator Bangun Jaringan 5G Ilustrasi jaringan 5G. (CNN Indonesia/Jonathan Patrick)
Jakarta, CNN Indonesia -- XL Axiata menawarkan opsi berbagi spektrum antar operator telekomunikasi untuk mengimplementasikan jaringan 5G di Indonesia. Opsi tersebut dinilai akan lebih efektif.

"Secara model bisnis akan jauh lebih efektif apabila tidak perlu setiap operator membangun jaringan 5G-nya sendiri-sendiri. Pasti untuk infrastruktur telekomunikasi perlu biaya besar," kata Direktur Teknologi XL Axiata Yessie D. Yosetya kepada awak media usai acara Telco Outlook 2020 di Hotel Aston, Jakarta, Senin (2/12).

"Tiap tahun saja kita keluarkan Rp7 triliun untuk 4G, bayangkan kalau untuk 5G," lanjut dia.


Selain spektrum, berbagi frekuensi juga dinilai Yessie efektif karena operator tidak mesti berinvestasi kembali untuk membangun infrastruktur 5G.

"Kemungkinan lain adalah misalnya sharing frekuensi, jadi dengan hak tersebut harusnya kita [operator seluler] tidak perlu investasi dua kali, mungkin hanya peru 1,2 atau 1,5 kali," pungkasnya.


Sebetulnya, opsi soal frekuensi dan network sharing atau berbagi jaringan aktif masih menimbulkan pro dan kontra di antara operator seluler.

Network sharing sendiri merupakan salah satu jalan keluar bagi pemerintah untuk bisa mewujudkan pemerataan pembangunan hingga ke pelosok daerah di luar Jawa secara efisien.

Dengan adanya network sharing maka akan secara langsung memberikan manfaat kepada masyarakat, salah satunya berupa kesempatan mendapatkan tarif layanan telekomunikasi yang lebih murah karena ada keleluasaan sebagai hasil kompetisi pelayanan.

Pemerintah tengah melakukan revisi Peraturan Pemerintah (PP) No 52 tahun 2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasi dan PP 53 tahun 2000 tentang frekuensi dan orbit satelit.

Revisi dari kedua aturan ini diyakini banyak pihak akan mengubah lanskap dari industri telekomunikasi karena munculnya model bisnis Mobile Virtual Network Operator (MVNO) dan berbagi jaringan aktif (Network Sharing).

Dalam praktik di dunia internasional, Active network sharing adalah mekanisme penggunaan bersama infrastruktur aktif  telekomunikasi antar operator telekomunikasi.

Ada lima model network sharing, yakni CME Sharing, multi operator radio access network (MORAN), multi operator core network (MOCN), Roaming, dan mobile virtual network operator (MVNO).


Kominfo Masih Konsultasi untuk Harga Spektrum 5G

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebut pihaknya bakal berkonsultasi dengan divisi keuangan untuk membahas masalah harga spektrum, demi menggelar konektivitas 5G di Indonesia.

"Saya harus konsultasi dengan keuangan, jangan sampai ada isu spektrum di jual murah. Artinya, kita juga harus menemukan keseimbangan," kata Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Ismail saat acara Telco Outlook 2020 di Hotel Aston, Jakarta, Senin (2/12).

Ismail pun sempat mencontohkan, Prancis yang baru baru saja selesai melelang frekuensi 5G dengan harga 'fantastis' yakni mulai dari 2,17 miliar Euro.

Selain itu kata Ismail, implementasi 5G tidak hanya berbicara soal uang namun bagaimana juga model bisnis spektrum dan frekuensi yang bakal diimplementasikan untuk operator telekomunikasi.

"Kita harus hitung supaya biaya spektrum ini bisa rasional, bukan hanya uang saja. Saya pun belum bisa menjawab soal ini [harga frekuensi 5G], selain frekuensi juga harus tahu bagaimana model bisnis spektrum dan frekuensi-nya," tuturnya.


Sebelumnya, Direktur Penataan Sumber Daya, Ditjen SDPPI, Kemenkominfo Denny Setiawan mengatakan jaringan 5G dengan frekuensi tinggi memiliki tingkat cakupan sinyal yang rendah.

Cakupan sinyal rendah ini berimbas pada mesti banyaknya investasi menara BTS (Base Transceiver Station) agar bisa menyediakan cakupan sinyal yang luas.

"Teorinya kalau frekuensinya makin tinggi cakupannya makin kecil, tadi kan cuma 200 sampai 300 meter artinya perlu investasi yang sangat banyak," kata Denny usai uji coba 5G di PT Smart, Tbk. Refinery di Marunda Jakarta Utara, 19 Agustus lalu.

Oleh karena itu tingginya nilai investasi membuat 5G dari segi model bisnis tak ekonomis untuk diterapkan bagi masyarakat luas. Model bisnis baru cocok untuk industri yang menerapkan otomasi dengan kebutuhan kecepatan jaringan tinggi dan lattency yang rendah.

[Gambas:Video CNN]

Di sisi lain, Kemenkominfo menyatakan bahwa penggunaan frekuensi 5G di Indonesia akan mengacu pada ekosistem 5G di dunia.

Kemenkominfo telah menyiapkan berbagai frekuensi mulai dari low-band, mid-band, hingga high-band untuk 5G.

Ismail dan jajarannya menyiapkan frekuensi mulai dari 600 MHz hingga 6 GHz, terutama dalam rentang 3,5 GHz hingga 4,2 GHz untuk keperluan 5G. Frekuensi 3,5 GHz dinilai memang cocok untuk menggelar 5G.

Hanya saja, saat ini frekuensi 3,5 GHz telah digunakan untuk keperluan satelit. Untuk itu Kemenkominfo melakukan studi agar 5G dan satelit bisa berfungsi bersama menggunakan frekuensi 3,5 GHz. 

(DAL)