Lukisan Gua Tertua Dunia di Makassar Terancam oleh Bakteri

CNN Indonesia | Jumat, 13/12/2019 11:26 WIB
Lukisan Gua Tertua Dunia di Makassar Terancam oleh Bakteri Foto: Ratno Sardi
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengkaji Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, Rustan Lebe mengatakan lukisan tertua adegan figur setengah manusia dan hewan (therianthropes) berusia 44.000 tahun di Makassar terancam hilang akibat pengelupasan dan bakteri yang dibawa oleh pengunjung Gua Leang Bulu Sipong 4.

"Pengaruh bakteri-bakteri yang dibawa oleh pengunjung maupun debu dan asap yang sempat menyentuh ruangan [Gua Leang Bulu Sipong 4] cukup berbahaya. Malah, salah satu bakteri memiliki sifat yang dapat merubah warna pigmen [gambar]," tuturnya saat konferensi pers di kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis (12/12).

"Kalau kita lihat dari sisi pengelupasan, sebagian besar [gambar] memang terjadi pengelupasan. Seperti gambar beberapa ekor jenis babi dan anoa itu seharusnya kalau tidak terkelupas, bakal tergambar secara utuh juga," sambung Rustan.


Tak hanya proses pengelupasan dan terjangkit bakteri, secara mikrobiologi gambar tertutupi oleh debu dan asap yang masuk ke dalam gua.


Rustan pun mengakui ia dan tim belum dapat membendung debu dan asap itu karena belum memiliki alat canggih. Saat ini tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulsel hanya mengandalkan pembersihan secara manual.

Guna menjaga kelestarian gambar therianthropes yang sedang berburu hewan mamalia besar dengan tombak maupun tali, Rustan tengah melakukan kerjasama yang intens dengan PT Semen Tonasa.

Perusahaan semen itu diketahui tengah melakukan reklamasi lahan di sekitar Gua Leang Bulu Sipong 4 yang berada di wilayah karst Maros-Pangkep, Makassar, Sulawesi Selatan.

"Secara makro, kita kerjasama dengan PT Semen Tonasa yang selama ini sedang mereklamasi lahan. Meski begitu, di sekitar 3,5 hektar lahan itu sementara direhabilitasi oleh kawasan, dihijaukan kembali kemudian dibangun Taman Keanekaragaman Hayati," imbuh Rustan.

[Gambas:Video CNN]

Selain melakukan kerjasama dengan stakeholder, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan bakal mengendalikan waktu berkunjung bagi para wisatawan yang ingin melihat Gua Leang Bulu Sipong 4. Rustan dan tim juga terus berupaya untuk menutup akses debu dan asap agar tidak masuk ke dalam gua.

"Yang ketiga mungkin berusaha bagaimana supaya akses debu dan asap itu bisa dihambat, mungkin salah satunya dengan penutupan lahan. Lalu kita juga akan terus melakukan riset yang sifatnya praktis untuk kepentingan konservasi objek," pungkasnya.

Buat Relief Situs Sejarah

Peneliti Muda dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Adhi Agus Oktaviana mengatakan pihaknya bakal membuat replika dan menerbitkan buku yang berisi konten soal penemuan situs bersejarah khususnya di provinsi Sulawesi Selatan dan bakal didistribusikan untuk masyarakat yang tinggal di Maros Pangkep, Makassar.

Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk memperkenalkan situs-situs bersejarah yang kini banyak dilupakan oleh masyarakat. Replika juga dibuat agar dapat menjaga kelestarian objek sejarah yang ada di sekitar wilayah tempat tinggal mereka.

"Insha Allah ke depan secara desiminasi kita akan siapkan buku-buku pengayaan atau artikel populer untuk masyarakat yang tinggal di Maros Pangkep. Lalu, untuk sinergi dengan pemda setempat juga sudah terjalin dengan baik," kata Adhi saat konferensi pers di kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis (12/12).

"Sejauh yang saya ketahui, setiap hasil penelitian pasti ada diskusi dengan pemda. Khusus di daerah Maros, sudah ada pembicaraan bagaimana pengaturan pembuatan replika [situs bersejarah]," sambungnya.


Selain itu, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional akan menggunakan teknologi mutakhir yakni 3D untuk menggambarkan figur situs secara utuh dan nantinya diunggah ke media sosial mereka.

"Beberapa situs di Maros Pangkep sebetulnya sudah dilakukan dengan tiga dimensi oleh Balai Konservasi Borobudur. Dengan menggunakan teknologi 3D ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat awam yang ingin melihat gambar situs dan kami akan unggah di media sosial," pungkas Adhi.

Peneliti mengklaim penemuan therianthropes merupakan bukti tertua yang menggambarkan seseorang yang sedang berburu hewan mamalia besar dengan tombak maupun tali. Figur therianthropes itu digambarkan sedang menangkap enam mamalia yang melarikan diri, dua ekor babi rusa, dan empat anoa.

Sebelum situs Gua Leang Bulu Sipong 4 ditemukan 2017 lalu, tim peneliti telah mengumumkan bahwa gua di sekitar kawasan karst Maros Pangkep sebagai salah satu motif lukisan gua tertua di dunia sekitar 40.000 tahun yang lalu dengan motid stensil tangan berwarna merah pada tahun 2014.

Tim peneliti arkeologi tersebut terdiri dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balitbang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Universitas Griffith Australia, dan Balai Arkeologi Makassar. 

Sementara untuk penanggalan radiocarbon figur, dilakukan oleh University of Queensland's Radiogenic Isotope Facility sebagai bagian dari kerjasama geochronology dengan Universitas Griffith Australia. 

(din/DAL)