Ahli Biologi dari The Wildlife Society, Ivan Parr mengatakan terdamparnya ribuan cacing itu disebabkan oleh badai El-Nino yang menerjang Pantai Drakes beberapa waktu yang lalu.
[Gambas:Instagram]
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cacing yang memiliki nama latin urechis caupo ini biasanya hidup di bawah air dan bersembunyi di lumpur atau pasir. Ukuran tubuh mereka pun hanya 10 inci.
Lihat juga:Peneliti Temukan Fosil Ular Berkaki |
Panjangnya pun berbeda-beda dengan kedua ujung yang mengecil dan berlubang. Cacing tak bermata ini bergerak secara peristaltik seperti usus.
Dilansir New York Post, cacing urechis caupo atau unicinctus dapat hidup sampai 25 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan perut, mereka biasanya memakan bakteri, plankton dan partikel kecil lainnya yang dikumpulkan menggunakan sistem jaring lendir.
[Gambas:Instagram]
Ada beberapa penyebutan yang berbeda di tiap negara, seperti di China cacing 'penis' ini disebut Haichang, masyarakat Jepang menyebut mereka dengan Yumushi, dan di Korea dengan nama Gaebul.
[Gambas:Video CNN]
Di Korea dan China, urechis caupo sering dijadikan umpan untuk mencari ikan dan terkadang dimakan dengan racikan bumbu khusus.
Sejumlah restoran di Korea menyajikan cacing 'penis' mentah dengan tambahan garam dan minyak wijen sebagai penambah rasa. Sebelum dikonsumsi, cacing mesti dibersihkan dulu, dipotong, dibelah, dan disajikan di piring yang masih menggeliat.