LIPI: Habitat Orangutan Terancam, Upaya Konservasi Mendesak

CNN Indonesia | Minggu, 12/01/2020 13:48 WIB
Peneliti mendorong agar Indonesia mempunyai rasa kebanggaan kepada orangutan sebagai endemik khas Indonesia dalam melakukan konservasi habitat. Ilustrasi Orang Utan. (AP Photo/Natacha Pisarenko).
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti mengimbau masyarakat mempunyai rasa kebanggaan kepada Orangutan sebagai endemik khas Indonesia dan mendukung konservasi habitat.

Pasalnya, pengeringan rawa dan hutan gambut Indonesia akibat alih fungsi habitat Orang Utan mengancam ekosistem hutan tropis primata Indonesia.

Peneliti Biologi LIPI Rosichon Ubaidillah mengatakan diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kebijakan terkait langkah-langkah konservasi Orangutan.


"Masyarakat maupun pecinta alam yang memerhatikan Orang Utan hanya di Indonesia. Oleh karena itu, komitmen tersebut harus diupayakan agar betul-betul implementasi dalam konservasi ini dijalankan dengan baik," ujar Rosichon kepada awak media di LIPI, Jakarta, Kamis (9/1).


Apabila konservasi tak dilakukan dengan serius, Rosichon mengatakan eksistensi Orangutan bisa terancam, tak hanya itu deforestasi akan terus terjadi.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kalimantan Tengah merupakan provinsi paling terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tahun ini dengan lahan terbakar mencapai 161.298 hektare pada 2019. Dengan rincian, lahan gambut 95.941 hektare dan lahan mineral 65.357 hektare.

Hasil Riset Dukung Konservasi

Rosichon menyebut konservasi juga harus didukung dengan peraturan dan hasil riset yang tepat.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Biological Anthropology dari Universitas Oxford Brookes Inggirs, Susan Cheyne mengatakan setuju mengenai hasil riset untuk mendukung konservasi.

[Gambas:Video CNN]

Baginya, riset bisa digunakan untuk menghasilkan pandang dari berbagai aspek. Misalnya, dampak dari deforestasi dan perubahan iklim kepada Orang Utan.

Perubahan iklim diprediksi mengganggu pola perbungaan dan perbuahan pohon karena ada kenaikan suhu dan curah hujan. Akibatnya, ketersediaan sumber akan terancam terhadap konservasi Orang Utan.

"Kita melalui hasil riset bisa memprediksi melalui model populasi terkait buruknya situasi Orang Utan" kata Susan.

Susan juga mengatakan perlu ada riset terkait pola Orang Utan yang turun ke pemukiman warga ketika terjadi pengurangan luas lahan. Pengurangan luas lahan bisa diakibatkan oleh pembukaan lahan, pertambangan, penebangan pohon hingga perburuan liar.


"Kita juga harus mengerti ketika binatang terhimpit dan keluar dari hutan ke pinggiran hutan dan akhirnya mereka kontak dengan manusia," kata Susan.

Lebih lanjut, Peneliti dari Departement of Anthropolgy dari Universitas Rutgers Amerika Serikat, Erin Vogel mengatakan perubahan iklim juga diakibatkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca karena alih fungsi tanah.

Erin menegaskan perubahan iklim ini adalah fakta yang terjadi sekarang, bukan hanya sekadar kepercayaan. Erin mengatakan masih banyak orang yang belum mengetahui bagaimana perubahan iklim bisa memberikan dampak bagi manusia.


Banyak orang menganggap bahwa perubahan iklim ini hanya merupakan pola geologi yang berulang. Oleh karena itu peran peneliti penting untuk membuktikan kenyataan perubahan iklim.

"Hasil riset kita semuanya penting untuk dimengerti bagaimana perubahan iklim memberikan dampak. Kita harus ajak orang-orang untuk memutuskan cara untuk mengurangi jejak karbon," kata Erin. (jnp/lav)