LIPI: Perubahan Iklim Ancam Sumber Makanan Orang Utan

CNN Indonesia | Jumat, 10/01/2020 08:52 WIB
LIPI mengungkapkan perubahan iklim berdampak terhadap keberadaan serangga, penyerbukan bunga, dan ketersediaan sumber pakan orang utan. Ilustrasi Orang Utan. (Regina Safri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan perubahan iklim berdampak terhadap ketersediaan sumber pakan orang utan. Sebab perubahan iklim mengganggu fase penyerbukan (polinasi) bunga.

Peneliti bidang entomologi dari Museum Zoologi Bogor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rosichon Ubaidillah perubahan iklim berpengaruh terhadap kelangsungan hidup serangga yang membawa serbuk sari ke putik bunga. Oleh karena itu serangga disebut sebagai polinator.

"Perubahan iklim merubah waktu perbungaan di sisi lain perubahan iklim merubah distribusi serangga polinator sendiri. Sehingga diyakini perlu penelitian," kata Rosichon kepada awak media di Kantor LIPI, Jakarta, Kamis (9/1).


Rosichon mengatakan berbagai penelitian mengisyaratkan bahwa perubahan iklim berdampak peningkatan fenomena pergeseran biogeografis, ketidakcocokan tanaman berbunga dan penyerbukannya, serta kemungkinan meningkat hingga tingkat kepunahan biodiversitas.


Ia mengatakan perubahan iklim menjadi perhatian serius dalam dua dasawarsa terakhir di antara komunitas ilmiah.

"Pertanyaannya spesies mana yang sangat penting dalam distribusi. Penelitian luar bilang itu kelompok-kelompok lebah. Itu polinator yang penting dalam distribusi," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Roshicon khawatir penurunan distribusi penyerbukan berdampak pada pengurangan produksi buah-buahan di habitat sehingga mengurangi ketersediaan makanan bagi orang utan.


Khusus di Indonesia, Rosichon menyarankan Indonesia memerlukan riset mengenai penurunan penyerbukan tersebut untuk menakar kekurangan produksi buah-buahan akibat perubahan iklim.

Serangga juga merupakan spesies yang terancam mati ketika terjadi kebakaran hutan mengingat beberapa serangga bersarang di pohon.

"Dari situ kita sulit jawab karena kita belum buat penilaian komprehensif mengenai jumlah polinator, apakah terjadi pengurangan," katanya.

(jnp/DAL)