Meet The Geek

Arvilla Delitriana, Alumni ITB Desainer Jembatan Lengkung LRT

CNN Indonesia | Minggu, 12/01/2020 08:04 WIB
Arvilla Delitriana, wanita lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1989 ini berhasil merancang jembatan lengkung LRT Jabodebek. Foto: CNN Indonesia/ Dini Nur Asih. (Foto: CNN Indonesia/ Dini Nur Asih)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arvilla Delitriana (Dina), wanita lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1989 ini berhasil merancang jembatan lengkung Light Rapid Transportation (LRT) atau kereta ringan Jabodebek.

Jembatan lengkung itu dibangun di atas flyover Tol Dalam Kota yang berada di ruas Kuningan, Jakarta Selatan dan membentang sepanjang 148 meter dan memiliki radius lengkung 115 meter serta menggunakan beton seberat 9.688,8 ton.

Prestasi berlanjut saat wanita yang akrab disapa Dina ini mendapat rekor MURI karena berhasil membuat jembatan terpanjang di Indonesia bahkan mungkin di dunia.


Long span (jembatan lengkung) yang dirancang Dina dan tim memakai tipe box girder beton. Tipe beton ini terdiri dari balok-balok penopang utama yang berbentuk kotak berongga. Box girder biasanya terdiri dari elemen beton pratekan, struktural atau komposit baja dan beton bertulang.


Saat ditemui di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada Senin (6/1), Dina mengatakan pembangunan jembatan lengkung menggunakan metode Balanced Cantilever dan sudah banyak digunakan oleh negara-negara lain.

"Balanced cantilever sebetulnya sudah cukup lama diterapkan banyak negara, terutama di negara-negara maju. Mereka menggunakan material baja untuk membangun jembatan karena baja relatif lebih mudah dan cepat," kata dia.

Metode balanced cantilever memanfaatkan efek kantilever seimbangnya sehingga struktur dapat berdiri dan mendukung beban beratnya sendiri tanpa sokongan lain dari perancah (penyangga sementara) atau falsework.

Konsep utama dalam metode itu adalah membangun struktur-struktur kantilever seimbang untuk pertama kali, sebelum memasangkan segmen-segmen beton. Sedangkan pembuatan segmen beton dapat dilakukan secara cast in situ (cor di tempat) atau precast (pracetak di pabrik).

Khusus segmen beton pracetak, terdapat beberapa tahapan penyambungan segmen-segmen tersebut.

Segmen pracetak yang dikirim dari pabrik ke lapangan dipasang antara satu dengan lainnya. Segmen yang pertama dipasang adalah piers segment, dilanjutkan dengan pemasangan filed segment arah depan/belakang pier segment.

Hal itu mesti dilakukan karena bearing belum dapat diaktifkan, maka harus diadakan tumpuan sementara untuk mendukung segmen tersebut. Setiap pemasangan segmen dilakukan dengan penyesuaian koordinat untuk garis arah horizontal dan elevasi untuk garis arah vertikal yang diperuntukan untuk kedua segmen.

Setelah itu, dilakukan grouting pot bearing yang mana grouting merupakan dudukan bearing pada pondasi jembatan dan dipasang beberapa segmen bidang lain sampai selesai dengan satu kantilever.

[Gambas:Video CNN]

Usai satu buah kantilever selesai dibangun, maka kantilever tersebut disatukan dengan kantilever yang sudah terpasang sebelumnya.

Dikarenakan struktur jembatan yang melengkung, maka kereta LRT hanya diperbolehkan melaju maksimal 30 kilometer per jam.

"Lengkungan itu kan ada ketentuan yaitu maksimal 30 kilometer per jam [laju kereta LRT] saja yang diijinkan. Kalau kereta LRT terlalu kencang, kereta akan terlempar," terang Dina.

Lebih lanjut kata Dina, akan ada serangkaian uji coba yang akan dilaksanakan salah satunya uji beban, yang memakan waktu selama dua hari dan akan dilaksanakan tahun 2021 dibarengi dengan pengoperasian LRT Jabodebek secara penuh.


Saat uji beban berlangsung, Dina dan tim akan memasang sebuah sensor untuk mengetahui apa yang terjadi ketika kereta melewati jembatan tersebut.

"Kalau uji beban kereta seperti LRT memakan waktu dua hari, mungkin yang cukup lama itu saat memasang sensor-sensornya. Sensor itu digunakan misal keretanya lewat, maka ketahuan apa yang terjadi dengan beton, saya monitoring lewat sensor itu," jelasnya.

Dina Klaim Jembatan Lengkung LRT Kuningan Jauh dari Sumber Gempa

Dina menyadari bahwa sebagian masyarakat pasti kkhawatir dengan struktur jembatan yang dianggap berisiko tinggi, apalagi Indonesia memiliki banyak sumber gempa.

Namun ia memastikan bahwa jembatan LRT Kuningan jauh dari sumber gempa Jakarta.

"Jadi, banyak sumber-sumber gempa yang ada di Jakarta. Terdekat [lokasi sumber gempa] dengan LRT Kuningan sebenarnya tidak ada," kata Dina.

Kategori terdekat lokasi sumber gempa itu kata Dina kurang dari lima kilometer. Selain itu, ia dan tim juga sudah membuat perhitungan terkait titik gempa yang ada di Jakarta.


Hitung-hitungan itu berasal dari kombinasi antara tujuh sumber gempa dunia, salah satunya Jepang.

"Jadi kita mengkombinasikan 7 sumber gempa di dunia, ada dari Amerika, Maroko, dan juga Jepang. Angka gempa yang telah terekam itu kita skalakan dengan gempa yang ada di Jakarta, lalu kita hitung agar mendapatkan hasil yang paling maksimum," jelas Dina.

Jembatan Lengkung (Long Span) Sempat Dianggap Sebelah Mata

Perjalanan Dina untuk merancang jembatan lengkung LRT Jabodebek selama dua tahun tentunya menyisakan banyak cerita, salah satunya ia menuturkan proyek buatannya ini sempat dianggap sebelah mata oleh sejumlah pihak.

"Keraguan dari berbagai pihak [rancangan Jembatan Lengkung LRT Jabodebek] dan itu yang harus kami buktikan bahwa keraguan itu bisa kami yakinkan," imbuhnya.

Keraguan itu ia tepis saat rancangan jembatannya mendapat sertifikat layak desain, bahkan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mendukung penuh jika jembatan lengkung mendapat paten Hak Intelektual Properti. Hal itu patut dilakukan agar tidak mudah ditiru oleh pelaku konstruksi lain.

"Penemuan dari ibu Dina, tentunya kami dari BRIN [Badan Riset dan Inovasi Nasional] selaku pembina dari kegiatan Research & Development akan mendukung temuan ini mendapat Hak Intelektual Properti," kata Bambang saat mendampingi Dina di kantor BPPT.


Menyoal hak paten, Dina menyebut jembatan lengkung rancangannya memang tidak bisa diterapkan di banyak tempat karena menyesuaikan dengan tempat pembangunan jembatan itu sendiri.

Selain itu, ia tak tahu persis terkait mekanisme pendaftaran hak paten.

"Kalau mengenai bahwa ini [jembatan lengkung] dipatenkan, sejujurnya saya kurang paham mekanismenya tetapi dari sisi rancangan , tidak selalu serta merta diimplementasikan di tempat lain. Sebab, lokasinya pasti berbeda tergantung kondisi di lapangan," ucap Dina.

Sebelum membuat proyek jembatan lengkung LRT Jabodebek, Dina diketahui pernah merancang beberapa jembatan di Indonesia seperti Jembatan Kali Kuto Semarang. Lalu jembatan layang khusus busway ruas Adam Malik di Jakarta, Jembatan Pedamaran 1 dan 2 di Riau, Jembatan Kereta Api Cirebon-Kriya, dan Jembatan Perawang Riau.

(din/DAL)