Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan TMC secara umum adalah metode untuk membuat hujan. Namun caranya berbeda dengan metode hujan buatan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Untuk menjatuhkan hujan di daerah-daerah yang terjadi karhutla, cara penyemaian garam di daerah yang terjadi karhutla. Dengan begitu hujan turun di lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hammam mengatakan tim TMC membaca awan potensi hujan yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan data dari BMKG.
Dalam proses ini tim BPPT melibatkan BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan TNI AU untuk melakukan operasi penyemaian awan yang dilakukan sejak 3 Januari hingga 12 Januari.
[Gambas:Video CNN]
Didukung 2 unit pesawat TNI-AU, pesawat CN 295 registrasi A-2901 Skadron 2 dan pesawat Casa 212 registrasi A-2105 Skadron 4, Malang.
"Sampai saat ini telah terbangkan 28 sortie penerbangan dengan menyemai sebanyak 51.200 kilogram garam di berbagai lokasi yang dianggap potensi untuk hasilkan hujan lebat," ujar Hammam.
Penerbangan dilakukan seoptimal mungkin pada saat potensi massa awan menuju wilayah Jabodetabek dengan ketinggian penyemaian sekitar 9.000- 12.000 kaki. Hammam mengklaim TMC berhasil mengurangi 40 persen curah hujan yang berpotensi terjadi di Jabodetabek.
BPPT menggunakan pesawat yang telah dimodifikasi khusus untuk menyemai zat higroskopis seperti garam dapur (NaCl) pada awan yang berpotensi hujan.
"Garam NaCl. Garam yang ukurannya sekitar 50 mikron, sangat kecil dan ini diharapkan akan percepat proses terjadinya hujan akibat adanya proses kondensasi di awan," ujar Hammam. (jnp/mik)