Kisah Rabiatul Jadi 'Ratu Ngebid' GrabCar demi Gelar Magister

Grab Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 15/01/2020 16:37 WIB
Kisah Rabiatul Jadi 'Ratu Ngebid' GrabCar demi Gelar Magister Ilustrasi Grab Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rabiatul Adawiyah tak pernah membayangkan Grab bisa membawa hidupnya sampai ke titik saat ini. Rabiatul rela siang-malam bekerja sebagai driver GrabCar demi mengejar cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan magister tanpa bantuan biaya orang tua.

"Saya mendapatkan paling minimal Rp300 ribu bersih setiap harinya, paling besar bisa sampai Rp700 ribu. Saya cuma berhenti kalau sedang makan ataupun salat. Makanya saya sering dijuluki Ratu Ngebid sama rekan-rekan driver lainnya," ujarnya, Medan, Rabu (15/1).

Namun cerita indah tidak selalu didapatkan Rabiatul saat menjadi pengemudi GrabCar. Saking semangatnya kerja, ia pernah diputus cinta karena kekasihnya merasa kurang diperhatikan.


"Saya sudah berusaha membagi waktu untuk pacar setidaknya bertemu seminggu sekali, tetapi dia inginnya lebih. Maunya berkabar setiap hari. Saya enggak bisa kalau begitu karena handphone cuma satu, itu pun dipakai bekerja. Setiap kali dia telepon tentu mengganggu saya bekerja. Akhirnya kami putus, ya mungkin itu jalan yang terbaik," kenangnya.

Rabiatul mengatakan tantangan tidak hanya datang dari kekasih saja. Keluarga juga sempat merasa malu karena Rabiatul menjadi pengemudi, padahal ayahnya seorang hakim di salah satu pengadilan agama. Namun, Rabiatul berusaha meyakinkan keluarga.

"Awalnya memang keluarga keberatan, tetapi setelah mereka paham yang saya jelaskan mereka sekarang justru balik mendukung. Yang penting aku bekerja secara halal. Ayah sekarang rajin untuk mengingatkan agar hati-hati di jalan, tidak lupa istirahat. Pokoknya lebih perhatian sekarang," ujarnya.

Rabiatul berpesan untuk para perempuan yang mungkin tertarik bergabung atau yang sudah bergabung menjadi mitra GrabCar agar tidak lemah dan manja. Rabiatul mengaku juga pernah lelah ataupun sakit karena lelah bekerja. Namun, dia mengesampingkan itu semua demi mengejar mimpi.

"Saya cengeng sebenarnya. Awalnya juga moody saat bekerja. Namun, itu semua tidak membuat saya lebih baik, justru saya tidak maksimal saat bekerja. Saya pikir perempuan bisa lebih baik saat bekerja bahkan dari laki-laki. Buktinya saya bisa melebihi pencapaian teman-teman pengemudi yang lainnya," tutupnya. (fef)