NASA: 2019 Jadi Tahun Terpanas Kedua Dalam Sejarah Bumi

CNN Indonesia | Jumat, 17/01/2020 08:48 WIB
NASA: 2019 Jadi Tahun Terpanas Kedua Dalam Sejarah Bumi Ilustrasi musim panas ekstrem. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Antariksa Amerika (NASA) mencatat bahwa suhu permukaan global atau bumi pada 2019 merupakan yang terpanas kedua setelah 2016.

Menurut analisis dari The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) atau Administrasi Kelautan & Atmosfer Nasional pada 2019, suhu global mencapai 0,98 derajat celsius.

Dilansir situs NASA, suhu global mengalami kenaikan sejak 1880-an rata-rata kurang dari satu derajat celsius.


Dengan menggunakan metode iklim dan analisis statistik data suhu global, para ilmuwan NASA telah menyimpulkan bahwa meningkatnya emisi ke atmosfer karbon dioksida dan gas rumah kaca menyebabkan peningkatan suhu yang cukup tinggi.


"Apa yang terjadi [kenaikan suhu global] adalah berkesinambungan, bukan kebetulan karena beberapa fenomena cuaca. Kita tahu bahwa tren ini didorong oleh meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer," kata Gavin Schmidt, salah satu ilmuwan di Goddard Institute for Space Studies (GISS) NASA.

NOAA pun mencatat wilayah Kutub Utara lambat laun menghangat sejak 1970 akibat naiknya suhu di atmosfer dan lautan, yang menyebabkan hilangnya massa di Greenland dan Antartika.

Selain itu, ada peningkatan cuaca esktrem seperti gelombang panas, kebakaran hutan, dan curah hujan yang lebat.

[Gambas:Video CNN]

Perubahan Iklim Jadi Penyebab Kebakaran Hutan di Australia

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Australia sampai saat ini, setidaknya telah menghancurkan lebih dari 2.000 rumah, 10 juta hektare lahan, dan 28 nyawa terenggut.

Sejumlah peneliti dari universitas memperkirakan lebih dari satu miliar hewan termasuk mamalia, burung, dan reptil terbunuh akibat kobaran api.

Para ilmuwan mengatakan bahwa perubahan iklim memicu kebakaran hutan menjadi mudah meluas dan muncul aksi protes besar-besaran pada Jumat (10/1) lalu di berbagai kota di Australia, yang meminta pemerintah mengambil tindakan untuk menangani perubahan iklim.

Sebab, Australia diketahui mengalami tahun terkering dan terpanas pada 2019 dengan rata-rata suhu 41,9 derajat Celcius.

(din/DAL)