Berkaca Kecelakaan Bus Subang, Perlu Benahi Rekrutmen Sopir

Joko Panji Sasongko, CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 13:40 WIB
Berkaca Kecelakaan Bus Subang, Perlu Benahi Rekrutmen Sopir Bagian bus Purnamasari yang mengalami kecelakaan di Jalan Raya Bandung-Subang, Ciater, Kabupaten Subang Jawa Barat, pada Sabtu (18/1). (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecelakaan bus pariwisata Perusahaan Otobus (PO) Purnamasari di Jalan Raya Bandung-Subang, Ciater, Kabupaten Subang Jawa Barat, pada Sabtu (18/1) merupakan tanggungjawab semua pihak terkait, khususnya pemerintah.

Praktisi keselamatan sekaligus pendiri Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), Jusri Pulubuhu mengatakan, pemerintah perlu membuat regulasi keselamatan yang ketat agar tidak terjadi kecelakaan serupa di kemudian hari. Kampanye keselamatan yang dibuat oleh pemerintah juga hal yang perlu dilakukan secara berkala.

"Kemudian pengusaha bus juga tidak hanya menganggap aturan itu hanya milik pemerintah, tetapi aturan keselamatan juga merupakan aturan mereka," ujar Jusri kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/1).


"Artinya perusahaan proaktif membuat peraturan keselamatan di atas peraturan pemerintah," ujarnya.

Salah satu komponen yang mesti diperbaiki oleh pemerintah dan pengusaha, kata dia, adalah saat proses rekrutmen. Dia berkata Indonesia tidak ada sekolah khusus bagi pengemudi bus atau truk.

Dia menyebut profesi pengemudi bus atau truk rata-rata diperoleh secara otodidak.

"Otomatis mereka tidak memiliki potensi yang mumpuni. Mereka tampil karena biasa atau pengalaman," ujarnya.

Selain itu, dia juga menyarankan ada pembinaan sumber daya secara internal oleh perusahaan. Standar Operasional Prosedur berbasis keselamatan dari perusahaan juga merupakan hal yang krusial.

"Jangan berbasis murah," ujarnya.

Lebih dari itu, dia perubahan skema upah bagi pengemudi bus, dari setoran menjadi remunerasi yang sistematis seperti perkantoran.

"Jadi sopir tidak pusing mengejar jumlah orang agar dapat setoran," ujar Jusri.

[Gambas:Video CNN]

Perilaku Sopir Bus Menentukan Keselamatan Penumpang

Kecelakaan bus terjadi di kawasan Subang, Jawa Barat menyebabkan delapan penumpang meninggal dunia dan puluhan penumpang lain mengalami luka.

Kepolisian dan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut.

Jusri menduga kecelakaan bus Purnamasari akibat kelalaian pengemudi dalam berkendara. Sehingga dia menyarankan setiap pengemudi bus untuk mengutamakan keselamatan berkendara.

"Ingat keselamatan, bukan asal sekadar 'ngegas' atau sekadar jalan," ujar Jusri.

Jusri menuturkan hal utama yang wajib dipatuhi oleh pengemudi bus sebelum perjalanan adalah memastikan kondisi kesehatan. Dia berkata pengemudi bus dilarang mengemudikan bus jika dalam kondisi sakit.

Jika dalam kondisi lelah, dia menyebut pengemudi bus wajib beristirahat agar konsentrasi mengemudi kembali seperti semula.

Saran kedua yang tak kalah penting untuk dipatuhi oleh pengemudi bus sebelum melakukan perjalanan, kata dia, adalah memeriksa kondisi bus. Dia berkata kondisi kendaraan salah satu faktor penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas.

"Kalau tidak layak jalan jangan dikemudikan," ujarnya.

Di sisi lain, Jusri menyinggung kemampuan berkendara pengemudi bus sebagai penyebab utama terjadinya kecelakaan. Sebab, dia mendengar pengemudi bus nahas tersebut tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

"Yang bisa saya simpulkan dari kecelakaan tersebut adalah ini adalah kontribusi dari perilaku atau faktor pengemudi lebih dominan," ujar Jusri.

Berdasarkan data statistik yang dimilikinya, Jusri menyebut kecelakaan kendaraan akibat ulah pengemudi mencapai lebih dari 80 persen. Sementara faktor lingkungan, misalnya jalan berliku atau menurun dan faktor kendaraan tidak terlalu signifikan.

Jusri tidak mempersoalkan jika hasil penyelidikan menyimpulkan adanya dugaan rem blong di balik kecelakaan tersebut. akan tetapi, dia mengingatkan rem blong disebabkan oleh ulah manusia, dalam hal ini pengemudi.

Dia berkata pengemudi mestinya melakukan pengecekan kendaraan dengan benar, seperti rem hingga ban. Selain itu, dia berkata pengemudi juga kerap salah dalam melakukan pengereman sehingga mengakibatkan rem blong.

Berdasarkan hasil investigasi, dia berkata pengemudi kerap melakukan 'freewheel' atau menetralkan gigi persneling saat kondisi jalan menurun.

Tindakan pengemudi bus atau truk itu dilakukan guna meringankan kerja mesin dan menghemat bahan bakar. Namun pada faktanya sangat berbahaya. Sebaiknya dalam kondisi itu, posisi gigi transmisi harus tetap berada di gir terendah untuk membantu menahan laju bus, jadi tidak hanya mengandalkan rem.

"Tetapi dengan demikian mereka tidak sadar beban kerja rem di kendaraan angkutan penumpang atau barang ini mengalami hal yang luar biasa ekstrem [menahan laju bus], panas," tutupnya. (panji/mik)