Teka-teki Lompatnya Virus Corona dari Kelelawar ke Manusia

CNN Indonesia | Selasa, 28/01/2020 21:02 WIB
Teka-teki Lompatnya Virus Corona dari Kelelawar ke Manusia Ilustrasi Virus Corona di China. (Chinatopix via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Virus corona yang berasal dari Wuhan, China menjadi momok di dunia setelah menewaskan lebih dari 81 orang di China hingga Senin (27/1). Virus corona berkaitan dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS).

Dilansir dari UCSF, saat ini ada tujuh virus corona yang bisa menginfeksi manusia, dua dari tujuh virus corona adalah SARS yang muncul pada 2002 dan MERS yang muncul pada 2012. Virus Corona dari Wuhan ini merupakan jenis virus corona baru yang dinamakan 2019-nCoV oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pertanyaan mendasar adalah siapa sumber penyakit ini. Hampir semua virus corona berasal dari kelelawar dan 96 persen urutan genom 2019-nCov identik dengan urutan genom.


Hanya saja, Pakar Penyakit Menular UC San Fransisco, Charles Chiu menganggap lompatan virus dari hewan ke manusia (zoonosis) tidak mungkin terjadi. Perpindahan virus hanya terjadi melalui hewan yang menjadi sumber virus.


Dalam kasus SARS, itu adalah musang, yang merupakan binatang seperti kucing yang digunakan untuk konsumsi di pasar hewan di Cina. Dengan MERS, itu adalah unta.

Oleh karena itu, Charles menganggap virus 2019-nCoV kemungkinan telah bermutasi sehingga memiliki kemampuan untuk melompat dari hewan ke manusia.

Seperti virus yang menyebabkan SARS dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS), corona adalah virus RNA (ribonucleic acid). Ini berarti virus ini menjadikan RNA sebagai materi genetiknya, bukan DNA.

"Karena ini adalah virus RNA, ia akan terus bermutasi selama terus beredar pada manusia. Mutasi tambahan saat virus beradaptasi dengan inang manusia dapat membuat virus menjadi kurang parah atau lebih parah, kurang atau lebih efisien dalam penyebarannya," kata  Charles.

[Gambas:Video CNN]

Virus corona adalah virus yang bisa menyebabkan flu biasa, tapi virus ini memiliki dampak yang luas dari sekadar flu biasa hingga radang paru-paru yang bisa mengancam jiwa.

Charles mengatakan 2019-nCoV berbeda dengan virus tes corona umum sehingga sulit untuk mendeteksi virus baru tersebut. Berarti tes diagnostik baru dan akurat untuk mendeteksi virus ini sangat dibutuhkan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memiliki tes laboratorium PCR (polymerase chain reaction) khusus untuk mendeteksi dalam waktu empat jam.

"Rencananya adalah dengan cepat menyebarluaskan tes ini ke laboratorium kesehatan masyarakat lokal dan negara bagian," kata Charles.


Dilansir dari Statnews, analisis genom virus sudah memberikan petunjuk tentang asal-usul wabah dan bahkan cara yang mungkin untuk mengobati virus yang menjadi kebutuhan mendesak.

Membaca genom yang terbuat dari RNA, juga memungkinkan para peneliti untuk memantau bagaimana 2019-nCoV berubah dan menyediakan peta jalan untuk mengembangkan tes diagnostik dan vaksin.

"Genetika dapat memberi tahu kami waktu sebenarnya dari kasus pertama. Ini juga dapat memberi tahu kita bagaimana wabah itu dimulai. Genetika dapat memberi tahu kita apa yang mendukung wabah," ujar ahli biologi molekuler Kristian Andersen dari Scripps Research.

Para ilmuwan di Cina mengurutkan genom virus dan diselesaikan pada 10 Januari, hanya sebulan setelah laporan 8 Desember tentang kasus pneumonia pertama dari virus yang tidak dikenal di Wuhan.

Sebaliknya, setelah wabah SARS dimulai pada 2002, para ilmuwan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengurutkan genom virus corona itu.

(jnp/DAL)