Ribuan Mati di Bali, Flu Babi Disebut Susah Jangkiti Manusia

CNN Indonesia | Selasa, 04/02/2020 12:10 WIB
Ribuan Mati di Bali, Flu Babi Disebut Susah Jangkiti Manusia Ilustrasi babi. (skeeze/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali mencatat sudah ada 1.191 ekor babi yang mati sejak akhir Desember 2019.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Ketut Gede Nata Kesuma menyebut virus sebagai penyebab kematian babi tersebut. Namun, belum diketahui pasti apakah penyebab kematian hewan mamalia itu karena wabah atau virus flu Babi.

Wabah demam atau flu Babi Afrika memang sedang menjangkiti beberapa wilayah di Indonesia. Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, wabah tersebut kini menjangkiti 16 kabupaten/kota di kawasan Sumatera Utara.


Kabupaten/kota tertular yakni Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Langkat, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan Medan.

Akibat wabah tersebut, sekitar 27 ribu ternak babi di Sumatera Utara harus dimusnahkan. Sedangkan ribuan lainnya rentan terjangkit wabah tersebut.


Menurut Dinas Kesehatan Hewan Medan, sampai saat ini sekitar 1.000 sampai 2.000 ternak babi diperkirakan mati setiap hari akibat wabah tersebut.

Kendati demikian, Departemen Kesehatan Filipina menyatakan African swine flu atau flu babi Afrika tidak menimbulkan risiko pada kesehatan manusia. Namun, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam mengolah daging babi pasca merebaknya wabah tersebut.

Melansir ABS CBN News, Menteri Kesehatan Filipina  Francisco Duque III mengingatkan masyarakat untuk memasak daging babi dengan seksama untuk mencegah penyakit menular dari daging setengah matang.

"Kami ingin menghilangkan ketakutan masyarakat dengan mengatakan bahwa, selama daging babi dibeli dari sumber yang dapat dipercaya dan dimasak dengan matang, daging babi aman untuk dimakan," kata Duque.


Depkes Filipina juga menyarankan peternak untuk tidak memberi makan produk daging babi mentah dan kurang matang kepada babi karena diduga merupakan sumber virus tersebut.

Penangan babi disarankan untuk mencuci tangan ketika mereka pulang dari peternakan atau pasar, dan membersihkan sepatu atau ban kendaraan yang digunakan di peternakan babi.

Departemen Pertanian Filipina melaporkan ASF melanda Filipina. 14 dari 20 sampel darah babi yang dikirim oleh Filipina ke Inggris dinyatakan positif ASF.

Sebanyak 7.416 babi di daerah yang terkena dampak di bagian Rizal dan Bulacan telah dimusnahkan.

[Gambas:Video CNN]

Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (DOH) menggambarkan ASF sebagai penyakit virus yang sangat menular di antara babi domestik dan babi liar.

Babi yang terinfeksi ASF dapat mengalami demam tinggi, depresi, kehilangan nafsu makan, kemerahan pada telinga, perut, dan kaki, muntah, dan diare yang dapat menyebabkan kematian, menurut DOH.

Sebelumnya, Nata menjelaskan bahwa jumlah kasus kematian babi paling banyak terjadi di Kabupaten Badung, Bali. Jumlahnya mencapai 564 ekor dan tidak menutup kemungkinan akan terus bertambah.

Kabupaten Tabanan juga cukup besar, yakni 537 ekor. Diikuti Kabupaten Gianyar 36 ekor dan Kota Denpasar 54 ekor.

Nata mengklaim babi yang mati masih jauh lebih sedikit ketimbang jumlah babi yang ada di Bali. Populasinya mencapai 800 ribu ekor. Namun, dia tetap tak memandang sepele. Peternak babi juga sudah khawatir dengan fenomena tersebut. Mereka mengklaim harga babi terus turun akibat kematian massal.


Itu semua karena masyarakat curiga babi di Bali terinfeksi virus Demam Babi Afrika atau African Swine Fever. Penyakit tersebut sudah diantisipasi Pemprov Bali sejak akhir 2019 lalu.

Seorang peternak asal Gianyar, Ketut Suardika mengatakan harga babi terus turun. Tidak hanya di daerah tempat babi mati secara misterius, tetapi juga di daerah lain lantaran kecurigaan masyarakat sudah menyebar.

Ketut mengatakan harga 1 kg daging babi sudah anjlok ke angka Rp22 ribu dari Rp27 ribu. Tidak ada yang menjamin harga tersebut bisa naik kembali dalam waktu dekat.

Pemerintah Malaysia sendiri telah melarang peredaran babi dan produk turunannya sejak 13 Desember 2019 lalu. Pemerintah Malaysia juga melarang para pelancong membawa produk yang berbahan babi dari luar negeri ke negara itu.

Wakil Menteri Pertanian dan Industri Berbasis Pertanian Malaysia Sim Tze Tzin menyatakan penduduk Malaysia tidak perlu khawatir pelarangan impor babi dari Indonesia akan memicu kelangkaan pasokan dan kenaikan harga.

"Industri daging babi dalam negeri mencapai RM5 miliar (sekitar Rp16,8 miliar) dan 93 persen sudah mampu berkelanjutan. Pelarangan ini tidak mempengaruhi penjualan daging babi di Malaysia karena hanya 7 persen yang diimpor. Masyarakat tidak perlu khawatir akan ada kenaikan harga karena pelarangan impor tersebut," kata Sim seperti dikutip dari Phnom Penh Post, Senin (23/12).

(jps/DAL)