Tren dan Peluang Industri E-Commerce di Indonesia 2020

CNN Indonesia | Kamis, 06/02/2020 01:41 WIB
Tren dan Peluang Industri E-Commerce di Indonesia 2020 Ilustrasi e-commerce. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mengutip data dari GlobalWebIndex, Indonesia merupakan negara dengan tingkat adopsi e-commerce tertinggi di dunia pada 2019. Sebanyak 90 persen dari pengguna internet berusia 16 hingga 64 tahun di Indonesia pernah melakukan pembelian produk dan jasa secara online.

Tidak hanya dari sisi perubahan gaya hidup konsumen, industri e-commerce juga membuka lebih banyak peluang bisnis baru, serta menghasilkan dampak beruntun (trickle-effect) bagi industri di sektor pendukung, seperti logistik, infrastruktur IT, dan operator e-commerce.

Namun demikian, meski berada dalam situasi bisnis yang semakin kompetitif, banyak potensi di industri e-commerce Indonesia belum tergali, terutama di berbagai kota di luar Pulau Jawa.


Memasuki 2020, SIRCLO, perusahaan penyedia layanan solusi e-commerce (e-commerce enabler) memaparkan beberapa tren dan peluang yang akan dihadapi oleh pelaku bisnis dalam era digital ini.

"Berdasarkan hasil penelitian internal dan insight yang kami dapatkan dari klien brand kami, terdapat tiga tren industri e-commerce yang perlu diantisipasi oleh brand dan pemilik usaha di tahun ini," ungkap Brian Marshal, CEO dan Founder dari SIRCLO melalui keterangan tertulis, Rabu (5/2).

Pertama, imbuh Brian, peningkatan daya beli dan engagement di wilayah luar pulau Jawa.

Data internal SIRCLO yang diperoleh dari kampanye Hari belanja online nasional (Harbolnas) 12.12 lalu menunjukkan peningkatan transaksi e-commerce yang signifikan dari wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa, seperti Bengkulu, Nusa Tenggara Barat, dan Papua.

Potensi itu diprediksi akan terus meningkat di tahun 2020.

"Jadi penting bagi brand untuk mulai meningkatkan fokus dan aktivitas ke luar Pulau Jawa," kata Brian.

Kedua, pertumbuhan industri e-commerce Indonesia didominasi oleh penjualan ritel yang terdiri dari beberapa kategori, seperti fesyen, consumer goods, maupun produk-produk kecantikan dan kesehatan.

Pertumbuhan pesat ini banyak difasilitasi oleh kehadiran marketplace. Dengan kemudahan dalam membuka lapak atau toko online, kini pelaku bisnis dapat menawarkan jasa atau produk secara digital dengan jangkauan konsumen yang lebih luas.

"Selain itu, munculnya banyak brand baru di beberapa tahun terakhir juga akan mempengaruhi pertumbuhan jumlah reseller dan distributor dari brand-brand tersebut," kata Brian.

[Gambas:Video CNN]
Ketiga, konsumen di era modern cenderung memiliki kebiasaan belanja yang memanfaatkan platform online sekaligus offline. Menurut data dari McKinsey, 20 persen pelanggan Indonesia biasanya melakukan riset produk di toko online sebelum akhirnya membeli produk di toko offline.

"Kedua segmen semakin terikat dan tak terpisahkan. Bila brand memiliki presensi online yang baik, maka penjualan offline pun akan meningkat," ungkap Brian.

Menanggapi ketiga tren tersebut, brand dan pemilik bisnis perlu semakin cermat dalam memahami strategi yang dibutuhkan untuk memaksimalkan pertumbuhan bisnis.

Brian menekankan bahwa peluang besar industri e-commerce Indonesia 2020 terbagi menjadi 3 pilar utama, yaitu:

Brand.com

Brand.com atau website yang dibangun khusus sebagai toko online sebuah brand. Membangun brand sendiri tidak bisa lepas dari membangun presensi dan identitas online dan salah satu cara utamanya adalah dengan membangun situs/toko online sendiri.


Marketplace

Marketplace yaitu kanal yang memfasilitasi transaksi jual beli online, seperti Tokopedia, Shopee, JD.ID, dan Lazada.

"Di permulaan, bisnis perlu memilih platform yang sudah populer terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk membangun basis pembeli yang solid. Kemudian, dari sana pemilik bisnis bisa fokus dalam mengembangkan situsnya sendiri," ungkap Brian.

Penyediaan Fitur Chat Commerce

Fitur itu disebut akan memfasilitasi interaksi penjual dengan pembeli melalui chat. Ini merupakan solusi dari transaksi reguler yang memakan waktu dan kurang efisien bagi kedua pihak. Dalam waktu dekat, SIRCLO akan meluncurkan fitur ini untuk penggunanya.

"Kami tengah menyiapkan layanan yang memungkinkan penjual mengintegrasikan dan menampilkan katalog produk mereka dalam chat room untuk mempermudah penjualan produk ke banyak pelanggan sekaligus," kata Brian.

Untuk mempertajam strategi dan memaksimalkan investasi di ketiga pilar peluang tersebut, brand perlu memiliki partner e-commerce enabler yang andal.

E-commerce enabler adalah perusahaan yang menyediakan solusi digital end-to-end untuk memasarkan produk secara digital, hingga ke jalur distribusi online.

"Banyak pelaku usaha yang kewalahan menghadapi pesanan, pertanyaan pembeli, sampai manajemen stok," kata Brian.

Karena itu, dengan bermitra dengan enabler, pelaku usaha dan karyawan inti perusahaan dapat berfokus untuk melakukan keahlian mereka, yaitu inovasi produk.

Menurut SIRCLO, dibandingkan dengan membangun teknologi dan sistem e-commerce terintegrasi dari nol, sebuah brand dapat menghemat setidaknya 92% dari nilai total investasi yang dibutuhkan, apabila bekerjasama dengan enabler.

(dal/DAL)