Sebab, saat ini frekuensi 700 MHz masih dipakai untuk siaran TV analog. Menurut GSMA jika frekuensi ini tak segera dialihkan untuk layanan 5G dalam 10 tahun ke depan, maka Indonesia bisa rugi hingga triliunan rupiah.
Laporan studi terbaru yang dikeluarkan GSMA mengatakan migrasi TV analog dan alokasi dividen digital untuk layanan broadband seluler dapat membuka era baru dalam konektivitas berkecepatan tinggi untuk warga negara Indonesia. Perhitungan tersebut diperoleh GSMA dengan menghitung dampak langsung dan tidak langsung terhadap produktivitas ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alokasi eksklusif dari pita 700 MHz dalam jumlah yang cukup merupakan kunci bagi operator telekomunikasi untuk menghadirkan layanan 4G dan 5G yang terjangkau ke seluruh wilayah Indonesia.
Sementara, menempatkan 5G pada frekuensi yang lebih tinggi, membuat operator mesti memasang BTS lebih banyak. Sebab, cakupan wilayah yang bisa dirangkul oleh 1 BTS jadi lebih kecil.
[Gambas:Video CNN]
Seiringan dengan realokasi frekuensi 700 MHz, pemerintah juga diminta untuk mencari cara agar operator juga bisa memanfaatkan frekuensi 2,6 GHz dan 3,6 GHz
"Migrasi TV analog dan menempatkan spektrum digital ke layanan ke layanan broadband seluler 4G/5G akan memaksimalkan manfaat ekonomi dan sosial di Indonesia," ujar Brett.
Brett menekankan frekuensi 700 MHz mengatakan kurangnya pemanfaatan spektrum justru membatasi kemampuan operator untuk memperluas jangkauan jaringan. Hal ini juga menghambat adopsi teknologi digital ke depannya.
"Karakteristik teknis dari spektrum ini memungkinkan jangkauan lebih baik dengan infrastruktur lebih sedikit dibanding spektrum yang lebih tinggi. Dengan demikian, operator pun bisa mengurangi biaya modal mereka dan konsumen pun akan diuntungkan karena implementasinya bisa lebih cepat," ujar Brett.
GSMA memperkirakan dalam lima tahun ke depan, jumlah pelanggan seluler di Indonesia diperkirakan akan mencapai 199 juta, dengan 177 juta diantaranya menggunakan layanan seluler untuk mengakses internet.