Sempat Diblokir, Kominfo Ungkap Alasan Ikut 'Main' TikTok

CNN Indonesia | Rabu, 12/02/2020 07:41 WIB
Kominfo telah bermain TikTok sejak Maret 2019 lalu, walau aplikasi asal China itu sempat diblokir selama seminggu oleh pemerintah RI. Tiktok Kominfo. (Foto: Tiktok)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi & Informatika (Kemenkominfo) telah 'bermain' TikTok  sejak Maret 2019 lalu. Padahal Kemenkominfo sempat memblokir aplikasi asal China selama satu minggu pada Juli 2018.

Plt. Kepala Biro Humas Kemenkominfo, Ferdinandus Setu mengatakan Kemenkominfo ikutan bermain TikTok sebagai salah satu strategi untuk melaksanakan komunikasi publik.

"Maret 2019 untuk kepentingan publikasi dan dekatkan diri dengan pengguna TikTok kemudian Kemenkominfo inisiasi  buat akun resmi di TikTok," ujar pria yang akrab dipanggil Nando saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (11/2).


Nando menjelaskan para pengguna TikTok bahkan menggunakan platform tersebut untuk mengadu ke Kemenkominfo perihal keberadaan konten-konten negatif, khususnya yang berbau pornografi.


ID TikTok Kemenkominfo adalah kemkominfo. Kemenkominfo telah mengunggah 32 video dengan jumlah likes 11.600 dan jumlah pengikut 2.299. Tak hanya itu, Kemenkominfo telah memperoleh status akun verified.

"Agar kita tahu juga bagaimana serunya anak-anak untuk main TikTok apa saja keluhannya. Belakangan mereka pakai TikTok untuk mention kami untuk melaporkan akun-akun yang masih vulgar," ujar Nando.

Nando mengatakan Kemenkominfo telah memiliki akun Twitter, YouTube, Facebook dan platform digital lainnya agar bisa lebih menyentuh khalayak dengan menggunakan platform populer.

[Gambas:Video CNN]

"Kita ingin berlaku fair semua platform itu perlakukan sama, artinya kita punya akun resmi di Twitter, Facebook, dan Instagram dengan cara yang sama pula untuk kepentingan publikasi," kata Nando.

Nando mengatakan TikTok telah menjadi platform digital yang lebih positif sekarang. Keberadaan akun-akun yang mengunggah konten negatif bisa dikatakan tidak ada. Akan tetapi, Nando mengakui masih ada satu atau dua akun yang berkonten negatif.

"Kami memantau perkembangan konten apakah masih senonoh atau tidak, makin ke sini [sudah] tidak. Meski satu dua konten yang tidak senonoh itu masih ada. Tapi kami mintakan di blokir,  mereka [TikTok] ikuti," tutur Nando.

(jnp/DAL)