Alasan Indonesia Butuh Waktu Lebih Lama Deteksi Virus Corona

CNN Indonesia | Kamis, 13/02/2020 14:30 WIB
Alasan Indonesia Butuh Waktu Lebih Lama Deteksi Virus Corona Ilustrasi. Peneliti ungkap alasan Indonesia butuh waktu lebih lama untuk mendeteksi virus corona Covid-19(STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menjelaskan alasan mengapa deteksi virus Corona Covid-19 di Indonesia memakan waktu lebih lama dari negara lain.

Menurut peneliti Eijkman, deteksi virus corona membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari. Padahal beberapa negara lain mengklaim mereka bisa mendeteksi virus lebih cepat. Singapura menyebut bisa deteksi virus itu dalam dua jam, China mengklaim terdeteksi dalam lima jam.

Peneliti LBM Eijkman Frilasita Aisyah Yudhaputri mengatakan perbedaan lama waktu pendeteksian tergantung dari metode yang digunakan. Selain itu, Frilasita mengatakan pengujian untuk menentukan positif atau negatif sejatinya hanya membutuhkan waktu beberapa jam. Akan tetapi, kewajiban konformasi membuat identifikasi memakan waktu sekitar tiga hari.


"Total sebenarnya satu harian. Tapi uji ulang membutuhkan waktu lebih lama," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung LBM Eijkman, Jakarta, Rabu (12/2).

Lebih lanjut, Frilasita memaparkan dua metode yang bisa dilakukan pihaknya untuk mendeteksi virus corona Covid-19 , yaitu metode protokol Pan-CoV dan kuantitatif PCR. Namun, sebenarnya selain dua metode ini telah dikembangkan metode pendeteksian lain yang berbeda di tiap negara.

Dengan protokol Pan-CoV, langkah pertama adalah dengan cara mengekstraksi asam ribonukleat (RNA) yang diterima laboratorium.

Setelah itu, dilakukan uji penyaringan (fgen RdRp) untuk menentukan positif atau negatif. Jika dinyatakan positif, langkah selanjutnya adalah uji konfirmasi di Pusat Genom Nasional LMB Eijkman untuk sequencing guna mengidentifikasi spesies.

"Protokol Pan-CoV dapat mendeteksi famili coronavirus, termasuk Human CoV OC43, Human CoV 229E, SARS, MERS, Feline Infection Peritonitis, 2019-nCoV, dan lain-lain," ujar Frilasita

[Gambas:Video CNN]

Sedangkan metode kuantitatif menurutnya dilakukan dengan mendeteksi secara langsung gen yang dipercaya paling sensitif untuk mendeteksi virus corona. Terdapat tiga gen yang diuji, yakni E, RdRp, dan N. Jika semua positif artinya seseorang positif terjangkit virus corona.

Metode kuantitatif PCR, kata Frilasita lebih cepat dari Pan-CoV. Sebab, dia menyebut metode ini dilakukan tanpa melalui sequencing (pengurutan genom) di Pusat Genom Nasional.

"Cukup melalui PCR dan secara hitungan cepatnya totalnya 5 jam. Kalau kemarin diomelin kenapa dua hari, (karena) di luar (negeri) hanya dua jam. Itu dalam pertimbangan salah satunya harus konfirmasi. Jadi agar tidak juga SDM kami tidak exhausted (kelelahan) butuh waktu dua hari," ujarnya.

Lebih lanjut, Frilasita menuturkan deteksi virus corona tidak bisa secara instan dilakukan. Dia berkata ada langkah panjang diperlukan untuk mendeteksi sebuah molekuler di dalam laboratorium, misalnya diperlukan kapasitas laboratorium yang memadai hingga SDM yang terlatih.

"Serta dibutuhkan reagen khusus. Jadi tidak bisa ada satu alat kemudian dimasukan apapun itu dan akan keluar sendiri," tuturnya.

Sebelumnya sempat diberitakan kalau China tengah mengembangkan alat yang bisa mendeteksi virus corona secara instan. Disebutkan kalau alat tersebut bisa mendeteksi virus tersebut dalam 8-15 menit saja. Saat ini mesin tersebut tengah dalam proses produksi massal yang bisa digunakan oleh 4.000 orang dalam sehari.

Khusus untuk virus corona, Frilasita berkata jenis spesimen yang digunakan adalah usapan orofaring atau nasofaring sebagaimana rekomendasi WHO dan US-CDC. Serum juga bisa digunakan untuk deteksi virus jika tersedia.

Setelah itu, dia berkata spesimen harus disimpan di dalam Viral Transport Medium (VTM) agar tetap hidup. Selain tidak tahan panas, spesimen tidak akan mati beberapa jam atau beberapa hari setelah diambil dari pesien.

"Spesimen klinis dapat disimpan pada suhu 4 derajat maksimal 48 jam sebelum dikirim ke laboratorium," ujar Frilasita.

Frilasita mengatakan LBM Eijkman memiliki unit penelitian Emerging Virus yang berfokus pada virus emerging dan endemik yang bersirkulasi di Indonesia.

Unit yang berdiri sejak 2012 itu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dalam mendiagnosis virus penyebab penyakit, seperti demam akut, infeksi susunan saraf pusat, kelainan bawaan, hingga spesimen tersimpan. (jps/eks)