Kominfo Komentar Soal Aturan Batasi Influencer Berpromosi

CNN Indonesia | Senin, 17/02/2020 08:41 WIB
Kominfo Komentar Soal Aturan Batasi Influencer Berpromosi Ilustrasi. Kemenkominfo mempertimbangkan untuk menerapkan aturan yang batasi influencer lakukan promosi makanan dan obat yang berbahaya dan tak terdaftar di BPOM.(CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Komunikasi & Informatika (Kemenkominfo) mempertimbangkan membuat aturan yang spesifik melarang influencer atau akun media sosial untuk mempromosikan produk pemutih abal-abal, obat, dan makanan yang tak mendapat izin dari Badan Pengawasan Obat & Makanan (BPOM).

Hal ini menanggapi kasus influencer dan akun media sosial yang mempromosikan produk pemutih abal-abal atau obat dan makanan tak berizin lain. Aturan pada dasarnya dibuat agar influencer tidak sembarangan mempromosikan suatu produk dan obat di media sosial.

"Ke depan influencer itu kan makin luas cakupannya dan beragam. Kalau dibutuhkan dan dampaknya makin luas kami pertimbangkan untuk membuat aturan," ujar Plt Kepala Biro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu kepada CNNIndonesia.com, Jumat (14/2).

Kasus terbaru adalah kasus losion pemutih berisi steroid yang menyebabkan gurat merah dan selulit pada beberapa bagian tubuh konsumen.


Dokter Kulit & Kelamin, Listya Paramita mengkritik para influencer yang kerap mempromosikan losion pemutih abal-abal.

[Gambas:Instagram]

[Gambas:Video CNN]

Nando mengatakan saat ini Indonesia memang belum memiliki aturan yang spesifik melarang influencer dan akun media sosial untuk mempromosikan produk dan obat tak berizin. Peraturan soal peredaran obat dan makanan tak berizin ada di BPOM.

Saat ini BPOM terus memberikan daftar konten yang mempromosikan produk dan obat yang tak berizin kepada Kemenkominfo. Kemudian Kemenkominfo akan meneruskan daftar itu kepada platform media sosial untuk melakukan pemblokiran

Di sisi lain, Nando berharap platform media sosial seperti Instagram, Twitter, YouTube dan sebagainya bisa pro aktif menyaring konten-konten promosi produk obat dan makanan tak berizin.

"Ketika dibicarakan berbahaya dan dipromosikan influencer semestinya ada tindakan terlebih dahulu. Lebih pro aktif berperan," kata Nando

Nando mendorong platform mengidentifikasi dan menyaring sendiri konten yang bisa membahayakan pengguna. Terutama jika produk berbahaya itu malah dipromosikan oleh influencer.

Nando mengatakan sebaiknya platform media sosial tak menunggu arahan dari Kemenkominfo untuk memblokir konten tersebut, sebab makanan dan obat tak berizin bisa merugikan konsumen. (jnp/eks)