Tak Lagi Tes Darah, China Pakai CT Scan Deteksi Virus Corona

CNN Indonesia | Jumat, 14/02/2020 18:05 WIB
Tak Lagi Tes Darah, China Pakai CT Scan Deteksi Virus Corona Ilustrasi virus corona. (AP Photo Emily Wang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas kesehatan Hubei, China, melaporkan jumlah kasus virus corona atau Covid-19 pada Kamis (15/2), menjadi 14.840 kasus dengan jumlah korban tewas sebanyak 242 orang. Jumlah kasus itu meningkat signifikan dari hari-hari sebelumnya sejak pertama kali diketahui pada Desember 2019.

Melansir Business Insider, Komisi Kesehatan Hubei mengatakan kenaikan kasus secara signifikan bukan karena Covid-19 menjadi lebih agresif. Kenaikan itu terjadi lantaran mereka mengubah cara mendeteksi Covid-19 di tubuh manusia.

Komisi Kesehatan Hubei mengaku tidak lagi mengandalkan tes darah untuk mendeteksi virus Covid-19 yang hasilnya memakan waktu berhari-hari. Mereka mengaku saat ini menggunakan CT (computed tomography) scan guna melihat secara langsung organ pasien yang diduga terjangkit Covid-19.

Peralihan metode deteksi diduga terjadi karena Komisi Kesehatan Hubei kekurangan alat tes yang semula digunakan. CT scan dilakukan terhadap organ paru-paru pasien. Sebab, Covid-19 diketahui menyerang paru-paru dan ginjal.


Ahli radiologi di Universitas Thomas Jefferson, Paras Lakhani sebaran virus Covid-19 di dalam paru-paru berbeda dengan virus pada umumnya. Dia berkata virus Covid-19 meluar hingga ke tepi paru-paru.

"Itu sesuatu yang jarang kita lihat. Kami melihat itu di severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East respiratory syndrome (MERS)," ujar Lakhani.

SARS dan MERS merupakan bagian dari virus corona. Wabah itu mengakibatkan 8.000 kasus dan 774 kematian dari November 2002 hingga Juli 2003.

Lakhani mengatakan CT scan adalah satu dari lima hal yang diperlukan untuk membuat diagnosis, bersama dengan gejala, riwayat klinis, perkembangan penyakit, dan tes laboratorium.

[Gambas:Video CNN]

Studi baru dari The Lancet menemukan bahwa Covid-19 dapat menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) yang seringkali berakibat fatal.

Melansir Channel News Asia, Komisi Kesehatan Hubei mengatakan penggunaan CT scan untuk mendeteksi Covid-19 bisa membuat pasien mendapat penanganan lebih dini dan konsisten.

Spesialis politik Cina di Sekolah Kebijakan dan Strategi Global di UC San Diego, Victor Shih menilai perubahan jumlah kasus dan korban pasca penggunaan CT scan sebagai metode diagnosis membuktikan komitmen China terhadap transparansi.

"Jika bukan itu masalahnya, pemerintah tidak mungkin menambahkan begitu banyak kasus baru dalam satu hari," ujar Shih.



"Aspek yang sangat mengganggu dari jumlah baru hari ini adalah bahwa sebagian besar kasus baru terjadi di Wuhan. Bagaimana jika sisa provinsi Hubei masih tidak menyesuaikan metode pelaporan mereka?" ujarnya.

Hubei sebelumnya hanya mengizinkan tes RNA untuk mengkonfirmasi infeksi Covid-19. RNA, atau asam ribonukleat diketahui membawa informasi genetik yang memungkinkan identifikasi organisme seperti virus.

Kepala penelitian biosekuriti di Kirby Institute di Universitas New South Wales di Sydney, Raina McIntyre mengatakan jumlah kasus Covid-19 bisa direvisi secara retrospektif sejak Desember 2019.

"Nampaknya ada kematian yang terjadi pada orang yang tidak memiliki diagnosis laboratorium, tetapi memang menggunakan CT. Penting bahwa ini juga dihitung," kata McIntyre.

(jps/DAL)