Masa Depan Layanan Kesehatan dan Teknologi Kecerdasan Buatan

CNN Indonesia | Sabtu, 22/02/2020 04:12 WIB
Masa Depan Layanan Kesehatan dan Teknologi Kecerdasan Buatan Ilustrasi kecerdasan buatan. (Fabrice COFFRINI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Platform layanan kesehatan digital, Halodoc mengatakan masa depan layanan kesehatan di era digital berada di penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Chief Product Officer Alfonsius Timboel membeberkan beberapa contoh kasus penggunaan AI dalam layanan kesehatan di masa depan.

Pertama-tama, kecerdasan buatan bisa digunakan untuk mendeteksi kanker dalam tubuh manusia. AI ini menggunakan computer vision di mana AI bisa mengekstrak informasi dari gambar yang diperlukan untuk mengeluarkan sebuah kebijakan.

AI diprediksi bisa mengidentifikasi ada anomali dari gambar dengan mengeluarkan analisis.


"Seperti AI bisa deteksi dan prediksi. Apakah satu orang itu bisa punya kanker ke depannya atau tidak. Jadi AI bisa analisis dan mengambil data dari X-ray dan CT-Scan," ujar Alfonsius kepada awak media di Bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (20/2).


Lebih lanjut, contoh kedua adalah AI bisa mendeteksi gejala-gejala penyakit. Misalnya AI bisa menentukan penyakit lewat gejala-gejala yang dialami pasien.

Gejala tersebut diinformasikan ke AI melalui semacam kuesioner. Di situ, pasien harus menjawab berbagai gejala yang ia alami. Dari informasi tersebut, AI mampu mengeluarkan diagnosa.

"Itu berasal dari AI berdasarkan pengalaman dan gejala pengguna. Sehingga bisa keluarkan rekomendasi dan diagnosa," kata Alfonsius.

[Gambas:Video CNN]

Alfonsius mengatakan diagnosa tersebut tepat sasaran daripada pasien harus mencari di mesin pencarian tentang gejala yang ia alami. Hasil pencarian terkadang tidak akurat dan bahkan terkesan hiperbola.

Di Halodoc sendiri, saat ini AI digunakan untuk memberi evaluasi kepada para mitra dokter. Evaluasi tersebut mengukur kualitas pelayanan mitra dokter kepada para pengguna Halodoc.

"Kita gunakan AI untuk melihat performa dokter agar kita bisa berikan feedback ke dokter. Agar bisa merespon lebih cepat dan penjelasan lebih lengkap," kata Alfonsius.



(jnp/DAL)