Contek Inggris, Menristek Sesalkan RI Masih Debat Hal Sepele

CNN Indonesia | Senin, 24/02/2020 18:22 WIB
Contek Inggris, Menristek Sesalkan RI Masih Debat Hal Sepele Menristek Bambang Brodjonegoro akui akan sontek Inggris soal BRIN. (Agust Supriadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro mengatakan Indonesia tertinggal dibandingkan Inggris yang telah melakukan revolusi industri sejak abad ke-17.

Revolusi industri dimulai ketika James Watt menemukan mesin uap yang mampu menjawab kebutuhan industri manufaktur kala itu.

Berbanding terbalik dengan di Inggris (United Kingdom/UK), Indonesia justru masih sibuk memperdebatkan hal-hal 'sepele' untuk mengembangkan inovasi. Salah satunya adalah memperdebatkan soal bentuk lembaga riset di Indonesia.


"Jadi tahun 1700-an sudah ada yang namanya inovasi di UK. Kita di Indonesia masih sibuk memperdebatkan inovasi seperti apa, bahkan memperdebatkan lembaganya seperti apa," ujar Bambang kepada awak media di kantor BPPT, Senin (24/2).


Bambang di sisi lain juga menekankan agar para peneliti bisa membuat riset untuk menjawab kebutuhan di industri. Lembaga riset harus mampu menghasilkan inovasi yang tepat sasaran, bukan hanya melakukan penelitian untuk menyerap anggaran lembaga.

"Orientasi dari riset sekarang hanya sekadar kegiatan penyerapan anggaran. Ini tidak sesuai dengan cita-cita kita menjadi Indonesia sebagai perekonomian yang berbasis inovasi," ujar Bambang.

Bambang mengatakan Indonesia saat ini juga masih kesulitan untuk mencari prioritas dan fokus riset nasional. Ia mengatakan saat ini prioritas riset di Indonesia masih terlalu banyak sehingga tidak fokus.

Bambang berharap agar lembaga riset bisa mendengarkan masukan riset agar bisa mengeluarkan inovasi yang memiliki daya guna tinggi, bukan hanya sekadar riset yang tak jelas fungsinya.


"Bidang prioritas kita masih sembilan. Bagi banyak pihak kalau bidang itu masih sembilan belum ada prioritas. Jadi kita harus mencari apa fokus prioritas kita," kata Bambang.

Bambang juga meminta peran dari perusahaan swasta untuk rajin melakukan riset. Sebab, Bambang menganggap perusahaan swasta mengetahui kebutuhan pasar sehingga mampu menciptakan produk tinggi daya guna.

"Inovasi bukan didorong pemerintah, mungkin awalnya  pertama pemerintah, tapi inovasi di akhir itu swasta," ujar Bambang.

[Gambas:Video CNN]

Akan Sontek BRIN ala Inggris

Bambang kemudian mengatakan akan membuat struktur BRIN mirip dengan BRIN di Inggris. BRIN di Inggris dinamakan UK Research & Innovation (UKRI).

Bambang menjelaskan alasan ia 'menyontek' struktur UKRI karena Inggris merupakan negara pionir yang melakukan revolusi industri melalui temuan mesin uap oleh James Watt pada abad ke-17.

"Maka saya upayakan struktur BRIN itu tak jauh dengan UKRI. Karena bagaimana pun kita harus meniru negara maju. Bukan membuat suatu organisasi apa yang kita ingin dan senang. Tapi kita lihat contoh terbaik yang sudah terbukti," kata Bambang.

Bambang mengatakan struktur UKRI terbagi menjadi beberapa kelompok yang tak hanya membahas mengenai riset, tapi juga inovasi hingga sains.

Ia mengatakan UKRI dibentuk berdasarkan Undang-Undang The Higher Education and Research pada April 2017. UKRI mengintegrasi tujuh badan riset, badan inovasi UK dan badan yang mewakili riset di perusahaan.


UKRI terdiri dari sembilan badan, yakni, Arts and Humanities Research Council, Biotechnology and Biological Sciences Research Council, Economic and Social Research Counci, Engineering and Physical Sciences Research Council, Medical Research Council, Natural Environment Research Council, Research England, dan Science and Technology Facilities Council.

"Britania Raya ini negara yang sangat penting dalam konteks  riset dan inovasi. Mereka adalah pencipta revolusi industri pertama," ujar Bambang.

Bambang mengatakan Inggris adalah negara yang berhasil melakukan revolusi industri lewat sebuah inovasi, yakni mesin uap. Revolusi berhasil dilakukan dengan mengomersialkan temuan mesin uap.

James Watt disebut Bambang berhasil melihat kebutuhan industri manufaktur. Bukan hanya sekadar membuat sebuah inovasi yang tak tepat guna bagi kebutuhan industri.

"Revolusi industri terjadi  bukan karena sekadar orang jenius James Watt menemukan mesin uap. Tapi karena James Watt bisa melihat kebutuhan industri manufaktur. Kemudian mesin uap yang ia ciptakan dikomersialisasi ," ujar Bambang.



(jnp/DAL)