Krisis Iklim, Beruang Kutub Makin Kurus dan Sedikit Beranak

CNN Indonesia | Rabu, 26/02/2020 15:49 WIB
Krisis Iklim, Beruang Kutub Makin Kurus dan Sedikit Beranak Ilustrasi beruang kutub. Arturo de Frias Marques via Wikimedia Commons
Jakarta, CNN Indonesia -- Dampak perubahan iklim menjadi semakin jelas dirasakan oleh manusia dan hewan. Namun, di antara semua spesies, beruang kutub mungkin merupakan yang paling terdampak.

Beruang kutub mengandalkan es laut di hampir setiap aspek kelangsungan hidupnya, misalnya berburu anjing laut, bepergian, hingga membuat sarang. Krisis iklim yang membuat es mencair semakin membuat waktu mereka untuk makan dan berproduksi menjadi berkurang.

Melansir CNN, studi yang diterbitkan dalam Ecological Application menemukan fakta bahwa Beruang Kutub semakin kurus akibat pencairan es laut. Selain itu, kesehatan dan jumlah anak spesies tersebut menurun.


"Perubahan yang disebabkan oleh iklim di Kutub Utara jelas mempengaruhi beruang kutub," kata penulis studi Kristin Laidre, profesor ilmu perairan dan perikanan di University of Washington.

"Mereka adalah ikon perubahan iklim, tetapi mereka juga merupakan indikator awal perubahan iklim karena mereka sangat bergantung pada es laut," ujarnya.

Beruang kutub dianggap sebagai spesies yang rentan, satu tingkat di bawah 'hampir punah'.  Jika tren iklim terus berlanjut, populasi mereka hampir pasti akan semakin berkurang.  

Para konservasionis melihat efek penyusutan habitat pada beruang kutub membuat keyakinan mereka untuk mengambil tindakan lebih cepat mempelajari bagaimana es yang mencair berimplikasi juga terhadap spesies lain.

"Beruang-beruang ini menghuni zona es musiman, yang berarti es laut hilang sepenuhnya di musim panas dan ini adalah perairan terbuka," ujar Laidre.

"Beruang di daerah ini memberi kita dasar yang baik untuk memahami implikasi hilangnya es laut," ujarnya.

Lebih lanjut, Laidre mengklaim telah melacak pergerakan beruang kutub betina dewasa di Baffin Bay, lepas pantai barat Greenland, selama dua periode waktu pada 1990-an dan 2010-an.

Pada 2009 hingga 2015, dia berkata beruang kutub di kawasan itu menghabiskan rata-rata 30 hari lebih banyak di darat daripada di periode 1991 hingga 1997. Hal itu terjadi karena es laut mencair dengan kecepatan yang lebih cepat dan lebih awal daripada yang terjadi pada 23 hingga 29 tahun yang lalu.

Laidre menyampaikan es laut bertambah dan menyusut seiring musim. Sehingga, beruang kutub tinggal di Pulau Baffin ketika es laut berkurang. Mereka menunggu di sana sampai ada cukup es laut untuk berburu anjing laut.

Namun, semakin banyak waktu yang beruang kutub habiskan di darat maka semakin kurus beruang tersebut.

Para peneliti menilai kondisi tubuh beruang pada skala 1 sampai 3, 1 berarti kurus dan 3 berarti gemuk (berlemak dan membuat mereka hangat). Dari 352 beruang yang mereka analisis, bahkan tidak ada 50 yang dianggap gemuk.

[Gambas:Video CNN]

Para peneliti lebih lanjut mengaku menemukan bahwa bobot beruang kutub semakin menurun setiap tahun karena es di laut terus berkurang.

"Ketika beruang berada di darat, mereka tidak berburu anjing laut. Mereka memiliki kemampuan berpuasa untuk waktu yang lama, tetapi seiring waktu mereka semakin kurus," kata Laidre.

Adapun terkait penurunan jumlah anak beruang kutub, Laidre menyampaikan terjadi karena terlalu banyak di darat akibat es laut mencair. Dia berkata beruang kutub akan mengalami penurunan kesehatan karena terlalu lama di darat dan pada akhirnya mempengaruhi jumlah anak yang dilahirkan.

Sebelumnya, ratusan ribu kerang mati di sebuah pantai di Pulau Utara Selandia Baru. Para ahli mengatakan akan lebih banyak kerang yang mati karena efek dari krisis iklim yang semakin cepat.

Kematian kerang massal dipicu oleh periode cuaca panas yang luar biasa dikombinasikan dengan surutnya air di siang hari. Andrew Jeff, seorang ilmuwan kelautan dari University of Auckland mengungkapkan hal ini semakin membuat kerang jadi 'matang' alias mati.

(jps/DAL)